Oleh: Fanesha Lencias Putri, Mahasiswa Progam Studi Psikologi, Universitas Muria Kudus
SUARAMUDA.NET, SEMARANG — Awalnya banyak yang mengeluh. “Aduh, lupa bawa tas belanja!” atau “Mbak, beli kantong yang besar satu ya.” Begitulah suara-suara yang kerap terdengar ketika kebijakan penghapusan kantong plastik diterapkan di minimarket sejak 2019.
Peraturan pemerintah yang kemudian diikuti Indomaret, Alfamart, dan jaringan ritel lainnya ini sempat membuat masyarakat Kudus kebingungan. Namun kini, pemandangan berbeda terlihat hampir setiap hari.
Ibu rumah tangga membawa tas kain besar dari rumah, anak muda menenteng totebag ke minimarket, sementara sebagian lainnya memilih memasukkan belanjaan langsung ke tas ransel. Yang dulunya terasa memaksa, kini berubah menjadi kebiasaan yang melekat.
Perubahan Kecil yang Berdampak Besar
Mengurangi penggunaan kantong plastik bukan sekadar urusan teknis ritel, tetapi langkah konkret menghadapi ancaman sampah plastik yang kian mengkhawatirkan.
Kita tahu, plastik butuh ratusan tahun untuk terurai. Banyak yang berakhir di sungai, selokan, bahkan laut termasuk dari wilayah Muria. Itulah mengapa kebijakan ini menjadi penanda penting bahwa perubahan besar bisa dimulai dari hal kecil.
Ketika kawasan Muria mulai memahami bahwa satu kantong plastik dapat mencemari lingkungan selama ratusan tahun, terbentuklah kesadaran moral bahwa mereka pun punya peran untuk menghentikan dampak buruk tersebut.
Akhirnya, membawa tas belanja bukan lagi beban melainkan pilihan yang dirasa benar. Lalu, fenomena di Kota Kudus ini tercipta melalui beberapa hal antara lain: kebijakan minimarket tanpa plastik, berbagai kampanye publik, pesan-pesan pengingat seperti “Bawa tas belanjamu, yuk!”, serta meningkatnya percakapan tentang isu lingkungan di media sosial.
Semua ini membentuk kesadaran kolektif, membuat masyarakat merasa bahwa membawa tas belanja adalah bagian dari budaya baru yang positif.
Bayangkan setiap orang di kawasan muria hanya berbelanja dua kali seminggu. Jika 100 ribu orang membawa tas sendiri, maka ratusan ribu kantong plastik bisa dihemat setiap minggu.
Dampaknya tidak hanya bagi kebersihan kota, tetapi juga bagi masa depan lingkungan kita.
Kebiasaan baru ini menunjukkan bahwa sinergi antara kebijakan publik, edukasi, dan kesadaran masyarakat mampu menciptakan perubahan nyata.
Dari langkah dengan membawa tas belanja sendiri, masyarakat belajar tentang rasa tanggung jawab terhadap bumi.
Arah Baru Masyarakat Kudus
Perubahan menuju gaya hidup ramah lingkungan memang tidak instan. Tapi langkah kecil yang dilakukan bersama dapat menjadi gerakan besar.
Seperti pepatah modern yang sering kita dengar: “Bumi tidak butuh sedikit orang yang sempurna, tetapi jutaan orang yang mau berusaha.” Untuk lingkungan yang lebih bersih, untuk masa depan yang lebih baik. (Red)