Menang Pilwalkot New York, Mamdani Malah Mau Diusir dari AS, Kok Bisa?

Zohran Mamdani, Wali Kota Muslim New York. (Gambar: Instagram @zohrankmamdani)

SUARAMUDA.NET, SEMARANG — Baru juga ngerasain euforia kemenangan, politisi muda Muslim Zohran Mamdani langsung kena badai politik besar di Amerika Serikat.

Mamdani, yang baru aja terpilih jadi Wali Kota New York City — sekaligus wali kota Muslim dan Asia Selatan pertama di kota paling ikonik di dunia itu — kini malah terancam dideportasi!

Kok bisa?

Ternyata, sejumlah politisi dari Partai Republik, termasuk orang dekat Donald Trump, lagi gencar banget ngegas Mamdani.

Mereka menuduh proses naturalisasi kewarganegaraan Mamdani pada 2018 “nggak bersih” alias penuh kebohongan. Bahkan mereka minta Departemen Kehakiman AS buat cabut kewarganegaraannya dan ngusir dia dari Amerika.

Penyebabnya?

Pandangan politik Mamdani yang super progresif. Ia dikenal vokal banget dukung hak-hak Palestina dan ide redistribusi kekayaan lewat pajak tinggi buat orang kaya. Gaya politiknya yang “kiri banget” bikin kubu konservatif panas dingin.

Dua anggota Kongres Republik, Andy Ogles dan Randy Fine, jadi yang paling depan dorong “denaturalisasi” ini. Mereka bahkan nyuratin Departemen Kehakiman buat nyelidiki Mamdani, menuduh dia nyembunyiin afiliasi ideologi ekstrem.

Trump juga sempet nyeletuk, nyebut Mamdani “komunis murni” dan ngancam bakal nahan dana buat New York kalau dia “nggak nurut”.

Padahal, Mamdani cuma aktif di Democratic Socialists of America (DSA), organisasi politik progresif yang sering dicap “komunis” sama politisi sayap kanan — padahal nggak resmi komunis sama sekali.

Mamdani sendiri santai tapi tegas nanggepin tuduhan itu. “Ini omong kosong rasis,” katanya.

Para ahli hukum imigrasi juga ikut ngomong. Mereka bilang, mencabut kewarganegaraan itu proses super langka dan susah banget.

Pemerintah harus bisa buktiin dengan data yang kuat kalau Mamdani bener-bener bohong waktu jadi warga negara.

Jeremy McKinney, pengacara imigrasi AS, menilai tuduhan terhadap Mamdani lemah banget.

“Saya nggak lihat bukti yang bisa bikin kewarganegaraannya dicabut. Semua tuduhan itu kelihatannya cuma permainan politik,” ujarnya.

Bahkan ahli sejarah Emory University, Harvey Klehr, bilang DSA itu bukan organisasi komunis. “Kaum sosialis demokratis justru menolak ide totaliter dan kepemilikan negara penuh atas alat produksi,” jelasnya.

Intinya, kemenangan Mamdani yang seharusnya jadi sejarah besar buat minoritas Muslim di Amerika malah berubah jadi drama politik tingkat tinggi.

Satu hal yang pasti, kisah Mamdani ini bukti kalau politik di Amerika nggak kalah panas sama sinetron prime time. (Red)

Redaksi Suara Muda, Saatnya Semangat Kita, Spirit Indonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like