Mengubah Keindahan Alam Bangka Belitung Menjadi Emas Ekonomi Berkelanjutan

- Penulis

Senin, 5 Mei 2025 - 19:57 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Nabila, mahasiswa Jurusan Manajemen, Fakultas Ekonomi & Bisnis, Universitas Bangka Belitung

Nabila, mahasiswa Jurusan Manajemen, Fakultas Ekonomi & Bisnis, Universitas Bangka Belitung

Oleh: Nabila *)

SUARAMUDA, SEMARANG — Bangka Belitung selama ini memang dikenal sebagai wilayah penghasil timah. Namun, ketergantungan pada sektor tambang tidak bisa terus menjadi penopang utama ekonomi daerah.

Di sisi lain, provinsi ini adalah permata tersembunyi yang menawarkan pesona alam luar biasa. Secara fakta, pertumbuhan wisatawan ke Bangka Belitung menunjukkan tren positif sejak film “Laskar Pelangi” mempopulerkan keindahan Belitung pada 2008.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Saat ini, pariwisata mulai menunjukkan perannya sebagai ‘tambang emas’ baru yang bersih dan berkelanjutan. Keindahan alam, budaya lokal, dan keramahan masyarakat menjadi aset besar dalam mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif dan merata.

Dari sisi ekonomi, kontribusi sektor pariwisata terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Bangka Belitung memang masih belum dominan, tetapi terus tumbuh setiap tahunnya.

Banyak pelaku usaha kecil dan menengah (UMKM) lokal mulai bergeliat di sekitar destinasi wisata. Misalnya, di sekitar Pantai Tanjung Tinggi dan Pulau Lengkuas, kini telah muncul banyak homestay, warung makan, penyewaan perahu, hingga pusat oleh-oleh yang dikelola masyarakat.

Perlu Manajemen dan Dukungan Sumberdaya

Fenomena ini menunjukkan bahwa pariwisata mampu menciptakan mata rantai ekonomi baru yang lebih luas dibandingkan tambang. Namun, perkembangan ini tentu harus ditopang oleh manajemen yang baik.

Baca Juga :  Membangun Pariwisata Bangka Belitung Tanpa Merusak Jati Diri Alamnya

Pengelolaan destinasi wisata seperti Pantai Parai Tenggiri, Bukit Perahu, dan Danau Kaolin belum sepenuhnya terintegrasi dalam sistem ekonomi lokal yang kuat.

Banyak infrastruktur dasar yang masih minim, seperti akses jalan rusak, fasilitas publik yang kurang, serta sistem pengelolaan sampah yang belum tertata. Padahal, hal-hal seperti ini sangat berpengaruh terhadap kenyamanan dan kepuasan wisatawan.

Manajemen sumber daya manusia (SDM) juga menjadi aspek penting. Tenaga kerja lokal perlu dibekali pelatihan manajemen bisnis, pelayanan prima, dan pengelolaan pariwisata berbasis komunitas.

Ini penting agar ekonomi yang dihasilkan dari sektor wisata benar-benar memberikan manfaat langsung bagi warga sekitar.

Ketika masyarakat terlibat aktif, maka akan tercipta siklus ekonomi lokal yang kuat—dimulai dari wisatawan datang, membelanjakan uang, dan uang tersebut kembali menggerakkan roda perekonomian desa.

Promosi yang efektif dan terarah juga merupakan bagian dari manajemen strategis pariwisata. Bangka Belitung memiliki keunikan yang tidak dimiliki daerah lain, namun selama ini belum terkemas dengan baik dalam satu narasi ekonomi kreatif yang menjual.

Pentingnya Dukungan Pemerintah

Baca Juga :  Belajar Demokrasi Tanpa Keteladanan

Pemerintah daerah perlu memperkuat identitas pariwisata daerah sebagai destinasi unggulan dengan citra yang khas. Hal ini akan menarik lebih banyak investor, wisatawan, dan pelaku ekonomi untuk berkontribusi dalam pengembangan sektor ini.

Keberlanjutan menjadi hal yang tidak bisa ditawar. Jika pembangunan wisata dilakukan tanpa memperhatikan daya dukung lingkungan, maka efek jangka panjangnya bisa berbahaya bagi ekonomi itu sendiri.

Kerusakan ekosistem pesisir, tumpukan sampah, dan alih fungsi lahan bisa menghilangkan daya tarik utama Bangka Belitung. Karena itu, pariwisata harus dikelola dengan prinsip ekonomi hijau—menghasilkan keuntungan tanpa merusak alam.

Kesimpulannya, pariwisata Bangka Belitung bukan sekadar pelengkap sektor ekonomi, melainkan fondasi baru yang bisa menggantikan ketergantungan terhadap tambang.

Dengan manajemen yang tepat, meliputi infrastruktur, SDM, promosi, dan keberlanjutan, sektor ini bisa menjadi sumber pertumbuhan ekonomi yang adil, kuat, dan berjangka panjang. Inilah tambang emas baru Bangka Belitung yang perlu digali dengan kecerdasan dan kepedulian. (Red)

*) Nabila, mahasiswa Jurusan Manajemen, Fakultas Ekonomi & Bisnis, Universitas Bangka Belitung
**) Artikel ini disusun untuk memenuhi tugas kuliah, isi dan pesan dalam artikel bukan menjadi tanggung jawab redaksi

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Ketika Jas Putih Ikut Berdarah, Kematian dr. Icha dan Cermin Buram Empati Kita
Giliran Bayar Tak Boleh Telat, Giliran Listrik Mati Disuruh Maklum
Rupiah, Ekspor, dan Masa Depan Ekonomi Indonesia: Jangan Terjebak pada Angka Semata
Mencermati Dugaan Intervensi Politik di Balik Aksi Mahasiswa Kendal
Ruang Lingkup Ekonomi Manajerial dan Alat Pengambilan Keputusan di Era Digital
Pengaruh Nilai Guna Marjinal terhadap Perilaku Konsumen dan Keputusan Pembelian
Ekonomi Digital dan Masa Depan Bisnis di Era E-Commerce
Pasar Tidak Pernah Benar-Benar Bebas: Memahami Monopoli hingga Oligopsoni dalam Realitas Ekonomi Indonesia
Berita ini 4 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Minggu, 28 Juni 2026 - 08:25 WIB

Ketika Jas Putih Ikut Berdarah, Kematian dr. Icha dan Cermin Buram Empati Kita

Rabu, 24 Juni 2026 - 10:34 WIB

Giliran Bayar Tak Boleh Telat, Giliran Listrik Mati Disuruh Maklum

Selasa, 23 Juni 2026 - 22:23 WIB

Rupiah, Ekspor, dan Masa Depan Ekonomi Indonesia: Jangan Terjebak pada Angka Semata

Senin, 22 Juni 2026 - 17:22 WIB

Mencermati Dugaan Intervensi Politik di Balik Aksi Mahasiswa Kendal

Minggu, 21 Juni 2026 - 10:34 WIB

Ruang Lingkup Ekonomi Manajerial dan Alat Pengambilan Keputusan di Era Digital

Berita Terbaru

KABAR NUSANTARA

Mengapa Sekjen dan Pengurus Partai Buruh Mundur Rame-rame?

Minggu, 28 Jun 2026 - 09:08 WIB

LINTAS AKADEMIKA

“Sekolah Layak, Pendidikan Bermartabat”

Minggu, 28 Jun 2026 - 08:47 WIB