SUARAMUDA.NET, SEMARANG — Iran kembali bergolak. Sejak 28 Desember 2025, jalanan di berbagai kota berubah jadi lautan manusia yang menuntut perubahan.
Sudah 16 hari berlalu, tapi suara mereka belum juga padam—justru makin keras. Di balik teriakan itu, ada kenyataan pahit: lebih dari 500 nyawa telah melayang.
Awalnya, protes ini hanya soal harga kebutuhan yang mendadak meroket. Tapi seperti bara yang kena angin, keluhan itu menjelma jadi gelombang besar.
Kini, rakyat berani menantang rezim ulama yang telah memegang kendali sejak Revolusi Islam 1979. Mereka turun ke jalan bukan hanya karena lapar, tetapi karena lelah.
Menurut laporan kelompok HAM HRANA di AS, setidaknya 490 pengunjuk rasa dan 48 aparat keamanan tewas. Lebih dari 10.600 orang ditangkap.
Namun angka ini pun masih samar—akses internet diputus, media dibatasi, dan dunia hanya bisa melihat potongan-potongan kebenaran dari cuplikan video yang lolos sensor.
Protes kali ini disebut yang terbesar sejak 2022. Dunia ikut tegang. Presiden AS Donald Trump terus mengeluarkan pernyataan bernada intervensi. Tekanan dari luar makin kuat seiring meningkatnya jumlah korban di dalam negeri.
Sementara itu, dari Teheran muncul peringatan keras. Ketua Parlemen Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, mengingatkan AS agar tidak coba-coba ikut campur.
“Jika Iran diserang, wilayah pendudukan (Israel) dan semua pangkalan serta kapal AS akan jadi target sah,” katanya. Tegas. Dingin. Menggigit.
Israel pun dibuat waspada. Status siaga tinggi diberlakukan. Sepanjang akhir pekan, para pejabat militernya menggelar rapat berlapis-lapis.
Namun mereka sepakat untuk tidak ikut campur—setidaknya untuk saat ini—karena takut memicu efek domino yang lebih berbahaya di kawasan.
Dari dalam Iran sendiri, gambar-gambar yang menyebar diam-diam di media sosial terasa seperti pukulan telak: ribuan orang memenuhi jalanan Teheran di tengah malam, menyalakan ponsel sebagai simbol harapan.
Sementara televisi pemerintah menayangkan puluhan kantong jenazah dan menyebut para korban sebagai “teroris bersenjata”. Dua kenyataan. Dua narasi. Dua dunia yang saling bertabrakan.
Yang jelas, belum ada tanda-tanda badai ini akan reda. Dengan kemarahan rakyat yang kian menguat dan tekanan geopolitik yang makin panas, Iran kini berada di persimpangan paling genting sejak 2022.
Dan Timur Tengah—lagi-lagi—menahan napas. (Red)