Tahun Baru: Momentum Refleksi dan Perubahan Diri

Suasana pesta kembang api untuk menandai pergantian tahun baru. (Gambar: pinterest)

Oleh: Debi Ardila Br Sembiring, mahasiswi Komunikasi dan Penyiaran Islam UIN Sumatera Utara

SUARAMUDA.NET, SEMARANG — Pergantian tahun selalu datang dengan cara yang sama: hitungan mundur, kembang api, unggahan media sosial, dan ucapan “selamat tahun baru” yang membanjiri linimasa.

Di balik gemerlap perayaan itu, ada satu pertanyaan sederhana yang sering luput kita jawab dengan jujur: apakah kita benar-benar berubah, atau hanya bertambah usia?

Bagi banyak orang, tahun baru identik dengan resolusi. Mulai dari hidup lebih sehat, lebih produktif, hingga menjadi pribadi yang lebih baik.

Namun, tak sedikit pula resolusi itu berhenti sebagai catatan di awal Januari, lalu menguap seiring rutinitas yang kembali menumpuk. Tahun berganti, tapi kebiasaan lama tetap terulang.

Fenomena ini wajar. Kita hidup di era serba cepat, di mana perubahan lebih sering terjadi di layar gawai ketimbang dalam diri. Media sosial mendorong kita untuk terlihat “baru”: feed baru, caption baru, bahkan personal baru.

Sayangnya, pembaruan itu sering bersifat kosmetik, bukan substansial. Kita sibuk merayakan perubahan waktu, tapi lupa memaknai perubahan sikap.

Padahal, tahun baru seharusnya menjadi ruang refleksi. Bukan sekadar melihat apa yang sudah kita capai, tetapi juga berani mengakui apa yang belum kita perbaiki.

Refleksi membutuhkan kejujuran, dan kejujuran sering kali tidak nyaman. Kita harus mengakui bahwa kita pernah lalai, pernah menyakiti, pernah menunda, dan pernah memilih jalan yang salah.

Dalam konteks ini, refleksi diri bukan tentang menyalahkan masa lalu, melainkan belajar darinya. Anak muda hari ini kerap dituntut untuk selalu tampil kuat, sukses, dan bahagia.

Padahal, proses tumbuh justru lahir dari kegagalan dan kesadaran untuk memperbaiki diri. Tahun baru memberi kita jarak dari masa lalu, agar kita bisa melihatnya dengan lebih jernih.

Dari sudut pandang nilai keislaman, refleksi diri bukan hal baru. Islam mengenal konsep muhasabah introspeksi terhadap apa yang telah dilakukan.

Tanpa perlu mengutip ayat panjang atau bahasa yang menggurui, esensinya sederhana: waktu adalah amanah, dan setiap pergantian waktu adalah pengingat bahwa hidup terus berjalan.

Bukan siapa yang paling meriah merayakan tahun baru, tetapi siapa yang paling siap memperbaiki dirinya.

Sayangnya, semangat refleksi sering kalah oleh euforia. Perayaan boleh saja, selama tidak menghilangkan makna. Yang perlu dikritisi adalah ketika tahun baru hanya menjadi rutinitas tahunan tanpa kesadaran. Kita kembali membuat janji-janji besar, tetapi enggan memulai langkah kecil yang konsisten.

Perubahan diri tidak selalu harus revolusioner. Tidak harus langsung menjadi versi “sempurna” dari diri kita.

Justru, perubahan sering dimulai dari hal sederhana: belajar menepati waktu, lebih bijak menggunakan media sosial, tidak mudah menyebarkan informasi yang belum jelas, atau sekadar memperbaiki cara berbicara kepada orang lain. Hal-hal kecil ini jarang viral, tetapi dampaknya nyata.

Bagi generasi muda, tantangan terbesar di tahun baru bukan kekurangan peluang, melainkan kurangnya arah. Kita dibanjiri informasi tentang kesuksesan orang lain, tetapi minim ruang untuk mengenali diri sendiri.

Tahun baru bisa menjadi titik balik jika kita berani berhenti sejenak, menilai ulang prioritas, dan menentukan arah hidup yang lebih bermakna bukan sekadar terlihat keren di mata publik.

Pada akhirnya, tahun baru tidak membawa perubahan apa pun jika kita tidak mengubah apa-apa. Waktu hanya bergerak, manusialah yang menentukan makna.

Pergantian tahun adalah pengingat bahwa kesempatan masih ada, tetapi tidak tanpa batas. Setiap hari yang berlalu adalah bagian dari umur yang tidak bisa diulang.

Maka, menyambut tahun baru tidak harus selalu dengan pesta besar. Bisa dengan refleksi tenang, doa sederhana, dan niat untuk menjadi pribadi yang lebih bertanggung jawab kepada diri sendiri, sesama, dan Tuhan.

Jika ada satu resolusi yang layak dipertahankan sepanjang tahun, mungkin itu adalah komitmen untuk terus belajar dan memperbaiki diri, meski pelan.

Karena pada akhirnya, perubahan paling penting bukan yang terlihat di kalender, melainkan yang tumbuh dalam kesadaran. (Red)

Redaksi Suara Muda, Saatnya Semangat Kita, Spirit Indonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like