SUARAMUDA.NET, SEMARANG — Ketegangan di perbatasan Thailand–Kamboja kembali memanas. Pemerintah Kamboja menuding militer Thailand telah melancarkan serangan udara ke Kota Poipet, sebuah kota wisata judi yang juga dikenal sebagai sarang perjudian online dan penipuan digital lintas negara, Kamis (18/12/2025).
Militer Kamboja menyatakan bahwa dua bom dijatuhkan di wilayah Munisipalitas Poipet, Provinsi Banteay Meanchey, sekitar pukul 11.00 waktu setempat.
Serangan ini langsung menggemparkan kawasan perbatasan yang selama ini dikenal sebagai “zona abu-abu” aktivitas kasino, judi online, dan jaringan scam internasional.
Poipet bukan sekadar kota perlintasan strategis antara Thailand dan Kamboja. Kota ini juga menjadi magnet wisata judi bagi warga Thailand — sekaligus pintu masuk ribuan pekerja migran ilegal, termasuk dari Indonesia, yang kerap berujung menjadi korban perdagangan manusia berkedok pekerjaan bergaji besar.
Namun Poipet bukan satu-satunya. Setidaknya ada tiga kota di Kamboja yang selama bertahun-tahun disebut sebagai pusat judi dan scam online, yakni Poipet, Sihanoukville, dan Bavet.
Ketiganya menyimpan kisah kelam tentang uang haram, kekerasan, dan ribuan WNI yang terjebak tanpa jalan pulang.
1. Poipet: Kota Perbatasan yang Disulap Jadi Mesin Judi dan Scam
Poipet dikenal sebagai kota kumuh yang hidup dari industri kasino. Kasino-kasino megah berdiri kontras dengan permukiman padat dan miskin di sekitarnya.
Awalnya hanya melayani penjudi dari Thailand dan Kamboja, Poipet kini berevolusi menjadi markas besar judi online dan penipuan daring lintas negara.
Ironisnya, sebagian besar operasional judi online di kota ini disebut melibatkan tenaga kerja asal Indonesia—banyak di antaranya direkrut dengan iming-iming pekerjaan legal, namun berakhir menjadi operator scam dengan jam kerja panjang dan ancaman kekerasan.
Pada Juli lalu, sebanyak 271 WNI ditangkap aparat Kamboja di Poipet dalam operasi pemberantasan penipuan online. Mereka terdiri dari 127 laki-laki dan 45 perempuan.
Fakta ini hanya puncak gunung es dari praktik eksploitasi tenaga kerja migran ilegal yang telah berlangsung bertahun-tahun.
Serangan bom Thailand ke Poipet pun menambah daftar panjang ketidakamanan kota ini — bukan hanya bagi warga lokal, tetapi juga ribuan WNI yang terjebak di dalamnya.
2. Sihanoukville: Dari Resor Mewah ke Kampung Judi Online
Sihanoukville pernah digadang-gadang sebagai resor kasino terbesar di Kamboja sejak diresmikan pada 1994. Kota pesisir ini dibangun sebagai simbol kebangkitan ekonomi pasca-perang saudara. Namun kini, wajah Sihanoukville berubah drastis.
Di balik hotel dan gedung bertingkat, terdapat kampung-kampung judi online yang beroperasi tertutup.
Salah satu wilayah yang kerap disebut adalah Kompong Dewa (Kampong Dewa), yang tercatat sebagai entitas bisnis properti dan disebut-sebut memiliki keterkaitan dengan grup usaha asal Indonesia.
Ribuan buruh Indonesia bekerja di balik layar komputer, menjalankan operasi judi dan scam yang menyasar korban dari berbagai negara.
Banyak dari mereka tidak memiliki paspor, dikurung, bahkan disiksa jika target tidak tercapai.
Sihanoukville kini lebih dikenal sebagai kota yang “menelan” para pekerja migran, dibandingkan destinasi wisata pantai.
3. Bavet: Kota Kasino di Perbatasan Vietnam, Neraka Sunyi bagi WNI
Bavet terletak di perbatasan Kamboja–Vietnam, sekitar tiga jam perjalanan darat dari Phnom Penh. Meski tampak modern dengan gedung-gedung tinggi bercahaya neon, Bavet menyimpan cerita kelam.
Menurut data Kedutaan Besar RI di Phnom Penh, diperkirakan lebih dari 7.000 WNI menetap di Bavet, mayoritas bekerja di sektor judi online dan penipuan digital.
Media Vietnam, Viet Bao, menyebut deretan kasino besar seperti King Crown, Le Macao, New World, dan Mocbai masih beroperasi.
Meski jumlah kasino fisik menurun sejak satu dekade terakhir, aktivitas judi justru bermigrasi ke dunia digital — dengan tenaga kerja Indonesia sebagai tulang punggungnya.
Channel News Asia (CNA) pada Januari lalu mengungkap kisah mengerikan seorang WNI bernama samaran Slamet (27) yang berhasil kabur dari Bavet.
“Saya takut karena bos di Kamboja masih mencari saya,” ujar Slamet. Ia mengaku hanya membawa dompet, ponsel, dan pengisi daya saat melarikan diri.
“Saya terpaksa mencuri dari perusahaan untuk membayar ongkos pulang,” kata pria asal Jawa Timur itu.
Pemerintah Ingatkan: Kamboja Bukan Negeri Aman
Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat Muhaimin Iskandar menyebutkan bahwa sekitar 100 ribu WNI saat ini bekerja di KambojaKamboja.
Namun ia menegaskan, negara tersebut bukan destinasi aman bagi pekerja migran Indonesia.
“Kita terus mengkampanyekan dan menyosialisasikan bahwa Kamboja bukan tempat aman untuk pekerja migran kita,” ujar Cak Imin, Oktober lalu.
Serangan bom di Poipet menjadi alarm keras: judi, scam, dan konflik geopolitik kini bertemu dalam satu wilayah, dan WNI kerap berada di posisi paling rentan.
Tanpa perlindungan, tanpa status hukum, dan tanpa jalan keluar, ribuan anak bangsa masih terjebak di jantung industri gelap Asia Tenggara. (Red)
Sumber: detikcom