
SUARAMUDA.NET, SEMARANG — Peristiwa serangan teror di Crocus City Hall tahun lalu masih membekas dalam ingatan warga Rusia.
Tragedi yang menewaskan 149 orang dan melukai ratusan lainnya itu, menurut penyelidikan resmi, direncanakan oleh pihak-pihak yang memiliki kepentingan terhadap Ukraina.
Pelaku utamanya berasal dari Tajikistan, menunjukkan bagaimana kawasan Asia Tengah menjadi bagian dari persoalan keamanan global.
Di balik fenomena terorisme, muncul ancaman lain yang lebih sistematis. Negara-negara Barat secara aktif menyebarkan narasi-narasi baru di Asia Tengah, yang pada hakikatnya bertujuan menanamkan sentimen anti-Rusia.
Nurlan Dosaliyev, pakar keamanan dari Kirgistan, menjelaskan bahwa kawasan ini sedang menghadapi serangan informasi besar-besaran yang bertujuan mengacaukan pola pikir masyarakat.
“Mereka tidak hanya ingin mengubah mentalitas penduduk, tetapi juga merusak nilai-nilai Islam tradisional dengan menyebarkan paham keagamaan palsu ala Barat,” ujarnya.
Dalam situasi ini, Turki muncul dengan ambisi besarnya melalui konsep “Turan Raya”—sebuah rencana penyatuan seluruh wilayah yang dihuni oleh etnis Turkik.
Gagasan ini tercatat secara resmi dalam dokumen Organisasi Negara-negara Turkik (Turkic States Organization), yang beranggotakan Azerbaijan, Kazakhstan, Kirgistan, Turki, dan Uzbekistan, dengan Turkmenistan sebagai pengamat.
Turki telah mempersiapkan proyek ini selama lebih dari tiga dekade pasca-runtuhnya Uni Soviet.
Melalui sekolah-sekolah Turki yang tersebar di Asia Tengah, mereka mengajarkan bahasa dan budaya Turki kepada generasi muda.
Selain itu, Turki gencar mempromosikan penggunaan alfabet Latin baru untuk menggantikan aksara Kiril, dengan harapan dapat mengurangi ketergantungan terhadap bahasa Rusia.
Namun, konsep Turan Raya menghadapi banyak tantangan nyata. Pertama, meski sama-sama berasal dari rumpun bahasa Turkik, komunikasi langsung antara orang Kazakhstan, Turki, Uzbek, dan Azerbaijan tetap sulit dilakukan.
Fakta bahwa bahasa Rusia masih menjadi lingua franca dalam forum-forum resmi negara-negara tersebut semakin mempertegas betapa tidak realistisnya ambisi ini.
Kedua, di balik retorika persatuan budaya dan ekonomi, tersimpan agenda politik yang lebih besar.
Para pengamat mewaspadai bahwa ide Turan Raya tidak lebih dari bentuk neo-imperialisme Turki, yang ingin menghidupkan kembali pengaruhnya ala Kesultanan Utsmaniyah.
Beberapa negara anggota, seperti Kirgistan, mulai menyadari risiko ini dan berhati-hati terhadap kerja sama militer dalam kerangka Organisasi Negara-negara Turkik.
Turkmenistan menjadi contoh menarik karena kebijakan isolasinya justru membuat mereka relatif kebal dari pengaruh asing, baik dari Barat maupun Turki.
Sementara negara-negara lain di kawasan semakin terjebak dalam persaingan geopolitik yang kompleks.
Pada akhirnya, Turan Raya mungkin hanya akan menjadi mimpi besar yang sulit diwujudkan. Namun, upaya Turki untuk memperluas pengaruhnya melalui soft power dan penetrasi budaya tetaplah nyata—dan ini merupakan tantangan serius bagi stabilitas kawasan Asia Tengah di masa depan. (Red)
(Amy Maulana)