Janji 15 Poin IQ dan 19.000 Sapi: Ketika MBG Lebih Nyaring dari Realitas

Oleh: Ali Achmadi, pemerhati masalah sosial, tinggal di Pati

SUARAMUDA.NET, SEMARANG — Konon, anak negeri ini akan melonjak 15 poin IQ hanya karena satu program makan. Namanya terdengar gagah: MBG. Lima belas poin. Bukan satu. Bukan dua. Lima belas. Seolah-olah kecerdasan itu seperti kuota internet: tinggal diisi paket, langsung ngebut.

Bahkan ada yang lebih heroik lagi. Tinggi badan anak Indonesia, katanya, bisa tembus 180 sentimeter. Serentak. Massal. Nasional. Kita seperti sedang menunggu angkatan baru tim basket raksasa lahir dari dapur program MBG.

Setiap hari dipotong 19.000 ekor sapi. Angkanya terdengar ngeri. Seolah-olah rumah potong hewan berdetak seperti jantung kedua republik ini. Belum lagi satu ekor ikan lele utuh per anak. Utuh. Bukan setengah. Bukan fillet. Utuh. Kalimat-kalimatnya terdengar seperti brosur surga nutrisi.

Dan tentu saja, ada bonus moralnya: membantu UMKM. Menggerakkan ekonomi rakyat. Menghidupkan desa. Membuat petani tersenyum. Membuat peternak bersorak. Semua terdengar sempurna. Masalahnya, kesempurnaan sering hanya hidup di podium, di meja-meja rapat.

Di lapangan, cerita berbeda. Menu yang sampai ke tangan anak-anak kadang memprihatinkan. Porsi yang jauh dari janji. Protein yang lebih mirip bayangan. Sayur yang sekadar lewat.

Anak-anak tetap makan. Karena lapar tidak pernah idealis. Tapi apakah itu cukup untuk menaikkan 15 poin IQ? IQ bukan bensin di kendaraan bermotor yang tinggal diisi lalu jarum spedo langsung naik.

Kecerdasan lahir dari gizi yang konsisten, lingkungan yang mendukung, guru yang berkualitas, dan rumah yang aman. Bukan dari satu kotak makan yang datang lalu pergi. Dan tinggi 180 sentimeter? Genetika mungkin ikut tersenyum kecil membaca klaim itu.

Program sosial memang perlu optimisme. Tapi optimisme yang dilebih-lebihkan sering berubah menjadi komedi. Lebih berbahaya lagi kalau komedi itu dibiayai dengan anggaran besar dan harapan rakyat kecil.

Yang dibutuhkan anak-anak sebenarnya sederhana: makanan yang benar-benar bergizi, bukan angka-angka yang bombastis. Kalau memang tiap hari 19.000 sapi dipotong, pastikan sapinya ada dan dagingnya sampai. Kalau memang lele utuh dibagikan, pastikan bukan hanya cerita yang utuh.

Kalau memang ingin bantu UMKM, pastikan uangnya tidak berhenti di meja rapat. Negeri ini tidak kekurangan program. Yang sering kurang adalah kejujuran angka dan keberanian evaluasi.

Karena pada akhirnya, yang menentukan masa depan bangsa bukanlah klaim 15 poin IQ, melainkan seberapa serius kita memperlakukan sepiring nasi di tangan seorang anak. Sisanya? Biarlah jadi bahan pidato. (Red)

Redaksi Suara Muda, Saatnya Semangat Kita, Spirit Indonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like