Memeluk Ragu, Menempa Layak: Sebuah Perjalanan Menemukan Value Diri

Oleh: Muti Arta Simamora, Mahasiswa Ilmu Hukum UMRAH

SUARAMUDA.NET, SEMARANG — Di antara riuh rendah suara rapat dan tumpukan agenda organisasi, seringkali suara yang paling bising justru datang dari dalam kepala sendiri: “apakah aku benar-benar pantas berada di sini?”

Sebuah pertanyaan yang mungkin terdengar seperti bentuk ketidakpercayaan diri, namun bagi sebagian orang, ia adalah kompas. Ia adalah titik berangkat bagi sebuah perjalanan panjang untuk menaikkan nilai diri, bukan melalui tepuk tangan orang lain, melainkan melalui proses yang penuh peluh dan tanya.

Bermula dari Baris Biasa

Langkah itu bermula dari sebuah posisi yang barangkali terlihat jamak: anggota OSIS. Di sana, tak ada sorot lampu yang berlebih. Namun, di balik seragam yang rapi itu, ada proses pendisiplinan yang sedang bekerja.

Menghargai pendapat orang lain dan belajar melebur dalam kerja tim menjadi fondasi awal. Di titik ini, “value” bukanlah tentang siapa yang paling vokal, melainkan siapa yang paling mampu mendengar dan menempatkan ego di bawah kepentingan bersama.

Keberanian untuk melangkah lebih jauh kemudian membawa diri pada kursi Wakil Ketua OSIS. Sebuah transisi yang tak hanya mengubah status, tapi juga beban di pundak.

Tanggung jawab mulai terasa nyata, tekanan menjadi kawan sarapan pagi, dan ketenangan diuji saat keputusan-keputusan krusial harus diambil dalam hitungan detik.

Saat Ragu Menjadi Guru

Menariknya, semakin tinggi jabatan yang dipangku mulai dari memimpin sebagai Ketua Angkatan Hukum hingga mengemban amanah sebagai Sekretaris Umum 1 HIMA, keraguan itu bukannya menguap, malah seringkali kian mengental.

Ada paradoks yang unik di sini: jabatan mentereng justru mengundang tanya yang lebih tajam tentang kelayakan diri.

Namun, di sinilah letak titik baliknya. Bertanya pada diri sendiri tentang “apakah aku sanggup memikul beban orang lain” bukanlah tanda sebuah kelemahan. Sebaliknya, itu adalah tanda kesadaran yang tinggi. Itu adalah bukti bahwa amanah tersebut tidak dianggap enteng.

Value diri ternyata tidak terbentuk saat kita merasa paling hebat atau paling yakin. Ia justru lahir dan mengeras saat kita memilih untuk tetap maju meski kaki gemetar, saat kita tetap bertanggung jawab meski ketakutan akan kesalahan membayangi.

Melewati Proses, Bukan Pembenaran

Pada akhirnya, kita belajar bahwa nilai seorang manusia tidak terpaku pada deretan titel yang tertulis di atas kertas legalitas.

Titel hanyalah cangkang. Isinya adalah keberanian untuk terus mencoba, konsistensi dalam memegang janji, dan keteguhan untuk tidak melarikan diri saat badai datang menghampiri.

Belajar menaikkan value diri adalah tentang membuktikan pada diri sendiri, bukan pada dunia, bahwa kita layak bertumbuh melalui proses yang jujur, bukan lewat pembenaran-pembenaran yang semu.

Sebab, di setiap keraguan yang kita peluk dengan tanggung jawab, di sanalah kita sedang menenun kualitas diri yang sesungguhnya. (Red)

Redaksi Suara Muda, Saatnya Semangat Kita, Spirit Indonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like