Membaca Luka Aurelie Moeremans dalam ‘Broken Strings’

Nadia Anastasya, Mahasiswa Ilmu Hukum UMRAH

Oleh: Nadia Anastasya, Mahasiswa Ilmu Hukum UMRAH

SUARAMUDA.NET, SEMARANG — Pada tanggal 10 Oktober 2025, di tengah riuh rendah dunia yang sering lupa mendengar, sebuah suara kembali menyeruak dari balik sunyi. Lewat e-book bertajuk Broken Strings, Aurelie Moeremans tidak sekadar menulis buku, ia sedang memungut serpihan dirinya yang tercecer di masa lalu.

Ia membuka kembali pintu kamar pengap ingatannya saat berusia 15 tahun, masa di mana keluguan seharusnya dirayakan, bukan dimangsa. Kisahnya tentang relasi yang timpang dan pernikahan semu dengan pria yang usianya dua kali lipat darinya adalah sebuah alarm nyaring.

Ini bukan sekadar cerita selebritas, melainkan cermin retak yang memantulkan wajah buram fenomena bernama child grooming.

Fatamorgana Kasih Sayang

Child grooming adalah pencurian paling senyap. Ia tidak datang mendobrak pintu dengan wajah bengis, melainkan menyelinap lewat jendela hati yang terbuka setengah. Ia adalah proses sistematis di mana serigala belajar memakai topeng domba.

Sang pelaku menenun jaring kepercayaan dengan benang-benang perhatian dan empati palsu. Mereka menawarkan suaka bagi jiwa-jiwa muda yang sedang mencari muara.

Di sanalah letak petakanya, ketika seorang remaja perempuan, dengan segala gejolak pencarian jati diri dan dahaga akan validasi, bertemu dengan sosok yang menawarkan “dunia”.

Pelaku menabur kata manis, menanamkan rasa ketergantungan, hingga korban merasa berutang budi pada cinta yang sebenarnya racun.

Dalam skenario ini, pelaku mengukuhkan diri sebagai “kekasih” atau “teman dekat”. Namun, di balik label itu, tersembunyi belenggu manipulasi dan hasrat untuk menguasai.

Hubungan itu terlihat normal di permukaan, namun di dalamnya, kemerdekaan jiwa sang korban sedang dikikis perlahan-lahan.

Luka yang Disiram Cuka

Dan betapa kejamnya dunia ini, ketika korban yang jatuh tersungkur justru dilempari batu. Fenomena victim blaming adalah hantu yang memperparah mimpi buruk itu.

Dalam lembar ke-194 Bab 22 Broken Strings, Aurelie melukiskan perihnya momen itu, ketika seorang pengacara, alih-alih membela lukanya, justru menyudutkannya perihal surel bermuatan asusila kepada Bobby. Di titik ini, korban diletakkan di kursi pesakitan, dituduh “mengundang” bencana, dan dianggap lalai.

Kita lupa atau pura-pura lupa bahwa mereka adalah jiwa yang sedang berjalan di bawah tekanan psikologis yang tak kasat mata.

Penghakiman sosial semacam ini tidak hanya merobek luka lama, tetapi juga membungkam mulut korban lain. Ketakutan akan dihakimi membuat mereka memilih menelan rasa sakit itu sendirian, dalam diam yang mencekam.

Membangun Benteng Bernama Rumah

Tragedi Aurelie adalah pengingat keras bahwa grooming tidak memilih wajah, ia bisa mengetuk pintu siapa saja. Maka, tugas kita bukanlah menjadi hakim, melainkan menjadi telinga yang mendengar tanpa prasangka.

Kita perlu menyediakan ruang aman, tempat di mana rasa takut tidak lagi berkuasa. Lantas, bagaimana kita menjaga tunas-tunas ini agar tidak patah sebelum mekar?

Pencegahan sejati tidak cukup hanya dengan memelototi layar digital. Kita harus menyentuh akar yang lebih dalam, kerentanan jiwa. Keluarga, sekolah, dan lingkungan harus bertransformasi menjadi benteng literasi emosional.

Kita perlu mengajarkan anak-anak kita tentang definisi cinta yang sehat, tentang keberanian menetapkan batasan, dan tentang intuisi untuk mengenali manipulasi sejak tatapan pertama.

Agar kelak, tidak ada lagi dawai masa depan yang harus putus, meninggalkan lagu yang tak pernah selesai dimainkan. (Red)

Redaksi Suara Muda, Saatnya Semangat Kita, Spirit Indonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like