Kenapa Orang Indonesia Tak Bisa Bahasa Belanda, Padahal Dijajah Ratusan Tahun?

- Penulis

Selasa, 25 Juni 2024 - 06:58 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

SUARAMUDA – Bangsa Indonesia seperti yang kita ketahui telah berpengalaman lama dijajah oleh Belanda. Praktis 300-an tahun hidup terjajah, namun orang-orang Indonesia tak sedikit yang dapat berbahasa Belanda.

Coba kita bandingkan dengan Malaysia atau Singapura. Kedua negara bekas jajahan Inggris itu, masyarakatnya fasih berbahasa Inggris.

Timor Leste yang juga pernah dijajah bangsa Portugis, justru menggunakan bahasa Portugis sebagai bahasa nasionalnya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Lalu, kenapa rakyat Indonesia tidak bisa berbahasa Belanda, ya?

Dilansir dari CNBC (23/6/2024), ketidakbisaan rakyat Indonesia berbahasa Belanda akibat dari perbedaan ‘gaya’ kolonialisme Belanda dan Inggris.

Diketahui, Inggris sengaja melakukan ‘invasi’ kultural Barat ke masyarakat Melayu sehingga kebudayaan lokal membaur dengan kebudayaan barat atau bahkan menghilang.

Di sektor bahasa, kebijakan ini membuat orang melayu cukup pandai berbahasa Inggris. Sementara itu, Belanda tidak melakukan itu kepada penduduk Indonesia.

Baca Juga :  Busyed, Dah! Pengemis ini Kaya Raya, Punya Harta Rp 14 Miliar dan Apartemen Rp 2,3 Miliar

Peneliti sejarah dari Nanyang Technological University, Christopher Reinhart, menjelaskan bahwa ada dua alasan Belanda bersikap beda terhadap kebudayaan lokal. Akibatnya, tingkat kefasihan bahasa Belanda masyarakat Indonesia di lintas generasi rendah.

Pertama, dilihat dari sudut pandang struktur kolonialisme Belanda. Saat itu, masyarakat lokal dan orang Belanda berada di struktur berbeda. Orang Belanda di kelas paling atas, sementara penduduk lokal berada di paling bawah.

Orang Belanda menganggap, menyebarkan kebudayaan serupa dengan menganggap penduduk lokal dan orang Belanda setara secara kultural. Hasilnya, mereka tidak mau membagikan kebudayaan Belanda agar struktur itu tetap terjaga.

Kedua, Belanda selalu melihat perspektif eksploitasi ekonomi sebagai ciri negara kolonial. Reinhart mengatakan, mereka merasa tidak masalah jika tidak menyebarkan kebudayaan.

Hal terpenting adalah tetap melakukan eksploitasi dan menguntungkan secara ekonomi.

“Snouck Hurgronje, salah satu pejabat pemerintah kolonial, pernah mengatakan bahwa ‘masalah kebudayaan tidak usah dipaksa. Biarlah bertumbuh dengan sendirinya, tanpa menghilangkan budaya lokal,” ujar Reinhart seperti tertuang dalam artikelnya.

Baca Juga :  Momen Bahagia, Astronot Tertua NASA Kembali ke Bumi Tepat di Hari Ultahnya ke-70. Simak!

Dua sikap Belanda itu berlangsung dari mulai fase eksploitasi tanam paksa dari 1830-1900 dan terus berlanjut saat Belanda menerapkan politik balas budi atau politik etis di tahun 1900.

Reinhart mengatakan, bangsa Belanda selalu fokus pada aspek ekonomi dan tidak mau merusak kebudayaan lokal terlebih setelah politis etis diterapkan. Mereka semakin paham bahwa menginvasi kebudayaan lain itu tidak baik.

Namun, bukan berarti penduduk lokal tidak boleh mengadopsi kebudayaan barat. Sebab, Belanda juga tidak tertutup soal itu. Faktanya, banyak kebudayaan barat yang diadopsi oleh penduduk lokal.

Beranjak dari alasan itulah, bahasa lokal, bahasa Melayu, dan bahasa Indonesia dapat tumbuh berkembang. (***)

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Dwi Sangita: Kongres XX IPPNU Harus Jawab Tantangan Pelajar Perempuan
Puteri Anggraini Kurniawan Rilis Single ‘Drama Pagi’, Jadi Penyemangat di Tengah Hiruk-Pikuk Pekerjaan
Ketua IPPNU Jateng: Ratusan Kader Dikerahkan untuk Matangkan Persiapan Kongres XX di Kendal
Tantangan Kreator Pemula dan Pentingnya Cara Kerja Video Editing di Era Digital
150 Tahun Batik Gan: Dari Rumah di Pekalongan, Menembus Museum Dunia
Gali Lurus dari Jakarta, Ternyata Bisa Muncul di Kolombia! Kalau dari Papua, Tembus Mana?
PSHW TM Lamongan Turunkan 6 Pendekar di IPSI Lamongan Megilan Cup 2026
Rafty Raf Rilis Single Kedua ‘Cinta Dia & Dirimu’, Bawa Kisah Cinta yang Datang di Waktu yang Salah
Berita ini 29 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Jumat, 9 Oktober 2026 - 19:41 WIB

Dwi Sangita: Kongres XX IPPNU Harus Jawab Tantangan Pelajar Perempuan

Jumat, 9 Oktober 2026 - 19:25 WIB

Puteri Anggraini Kurniawan Rilis Single ‘Drama Pagi’, Jadi Penyemangat di Tengah Hiruk-Pikuk Pekerjaan

Jumat, 9 Oktober 2026 - 15:34 WIB

Ketua IPPNU Jateng: Ratusan Kader Dikerahkan untuk Matangkan Persiapan Kongres XX di Kendal

Kamis, 8 Oktober 2026 - 12:18 WIB

Tantangan Kreator Pemula dan Pentingnya Cara Kerja Video Editing di Era Digital

Selasa, 6 Oktober 2026 - 11:15 WIB

150 Tahun Batik Gan: Dari Rumah di Pekalongan, Menembus Museum Dunia

Berita Terbaru

Presiden Amerika Serikat Donald Trump. (The Nation)

KILAS GLOBAL

Gokil! Trump Mau Ganti Nama Samudra Atlantik Jadi Samudra Trump

Senin, 12 Okt 2026 - 15:28 WIB

Salah satu destinasi wisata di Pulau Bali. (Gambar: pinterest)

KABAR NUSANTARA

Bali Jadi Tuan Rumah New Asia Forum, Indonesia Bidik Investor Kelas Kakap

Minggu, 11 Okt 2026 - 08:02 WIB