Oleh: Ali Achmadi, praktisi pendidikan dan peminat masalah sosial; tinggal di Pati
SUARAMUDA.NET, SEMARANG — Lebaran selesai. Tidak ada ritual sidang penutupan yang bertele-tele. Tidak ada juga pengumuman resmi. Tahu-tahu saja… sudah selesai.
Stoples pun mulai kosong. Grup WhatsApp mulai sepi. Tidak ada lagi broadcast “mohon maaf lahir batin” yang dikirim ke 200 kontak sekaligus—termasuk mantan yang sudah menikah. Lalu hidup kembali seperti biasa.
Giliran ATM mulai bicara. Pendek. Dingin. Tidak ada kepalsuan. “Mohon maaf, saldo Anda tidak mencukupi.” Tidak ada pengantar. Langsung ke inti. Seperti keputusan hidup yang kadang datang terlambat.
Beberapa hari sebelumnya, kita bukan orang yang sama. Ada fase di mana angka di rekening terasa tidak terlalu penting. Ada masa di mana keputusan diambil tanpa terlalu banyak kalkulasi.
Bukan karena tidak bisa menghitung. Tapi karena memilih untuk tidak terlalu berhitung. Ada keberanian di situ. Keberanian yang tidak dimiliki oleh orang yang hudupnya selalu berhitung.
Setelah itu, ATM hadir. Sebagai penutup cerita. Ia tidak menghakimi. Ia tidak menyindir. Ia hanya jujur. Dan kadang kejujuran memang membuat tidak nyaman.
Tapi menariknya, tidak semua orang marah. Tidak semua orang menyesal. Karena diam-diam, ada yang mengerti: bahwa beberapa hari kemarin bukan kesalahan.
Itu pilihan. Pilihan untuk melonggarkan logika. Pilihan untuk tidak selalu menempatkan angka di atas segalanya.
Di titik ini, definisi “cukup” mulai terasa aneh. Karena “cukup” itu tidak pernah benar-benar datang. Ia selalu bergeser.
Selalu menunggu angka berikutnya. Kalau menunggu cukup, tidak akan pernah mulai. Kalau menunggu kaya, mungkin tidak akan pernah terjadi.
ATM boleh saja berkata: “Mohon maaf, saldo Anda tidak mencukupi.” Silakan. Tapi hidup tidak hanya diukur dari saldo rekening. Ada hal lain yang tidak tercatat di layar mana pun.
Tidak ada notifikasi. Tidak ada histori transaksi. Tapi nyata. Dan justru itu yang membuat seseorang terasa lebih dari sekadar cukup.
Memberi tidak harus menunggu cukup. Karena cukup itu tidak punya garis finish. Memberi tidak harus menunggu kaya.
Karena kaya itu adalah siapa yang berani memberi … bahkan saat belum punya apa-apa. Memberi… ya memberi saja. Selagi bisa. Selagi mampu.
Karena tidak semua hal di hidup ini harus cukup dulu baru dilakukan. Tidak semua keberanian lahir dari kelebihan.
Di situlah bedanya: ada yang menunggu punya lebih baru berani memberi. Ada yang berani memberi meski belum punya lebih. Dan yang kedua itu— tidak sedang kekurangan. Tapi dia… lebih berani. (Red)