Oleh: Mayada Izzatul A’yun, Praktisi Psikologi Industri dan Organisasi
SUARAMUDA.NET, SEMARANG — Kita sering terjebak dalam anggapan bahwa setiap transaksi adalah murni keputusan kita, padahal di balik layar, marketplace telah berubah menjadi sebuah mesin presisi yang dirancang untuk mengambil alih kendali perilaku kita.
Kita sering merasa sedang memegang kendali atas keputusan kita, padahal tanpa sadar, kita hanya mengikuti jalur yang sudah dipetakan oleh algoritma.
Masalahnya, sistem pemasaran digital saat ini bekerja seperti eskalasi mesin yang tidak pernah berhenti. Ia terus berputar, menyuguhkan konten visual yang memicu self-congruity, di mana kita merasa harus memiliki suatu barang demi mempertahankan citra diri.
Di sini, perilaku konsumsi tidak lagi digerakkan oleh kebutuhan dasar, melainkan oleh ritme mesin yang terus menekan pertahanan kognitif kita hingga kita kehilangan kemampuan untuk mengevaluasi secara objektif.
Di sinilah FOMO (Fear of Missing Out) berperan sebagai bahan bakar utama. Secara psikologis, FOMO adalah alarm kecemasan yang mendistorsi logika, membuat kita takut menjadi komponen yang tidak relevan dalam sistem sosial.
Entrepreneur memanfaatkan ini melalui scarcity principle atau prinsip kelangkaan. Mereka tidak menjual solusi, mereka menjual “akses” agar kita tidak terlempar keluar dari tren yang sedang berjalan.
Dulu, proses pengambilan keputusan manusia memiliki kemudi yang kuat. Ada jeda waktu untuk berpikir, ada jarak untuk menimbang, dan ada proses evaluasi yang matang.
Kemudi ini adalah pelindung agar kita tidak menabrak batas kemampuan finansial dan kebutuhan nyata. Namun sekarang, kemudi itu seolah dilepas. Atas nama “kemudahan,” proses berpikir kita dipotong habis, dan kita dibiarkan melaju tanpa arah.
Pemasar masa kini mengganti kendali personal tersebut dengan otomatisasi psikologis yang sistematis:
Dampak dari hilangnya kendali ini tidak hanya berhenti pada laporan mutasi rekening yang membengkak, tetapi juga pada degradasi mentalitas jangka panjang.
Ketika konsumen terus-menerus terpapar pada kepuasan instan yang dipicu oleh FOMO, kemampuan mereka untuk melakukan delayed gratification (menunda kepuasan) akan terkikis.
Padahal, dalam psikologi ekonomi, kemampuan untuk menunda kepuasan adalah fondasi dari kesejahteraan finansial.
Jika entrepreneur hanya fokus memicu impulsivitas, mereka sebenarnya sedang menciptakan pasar yang rapuh. Sebuah pasar yang bergerak berdasarkan ledakan emosi sesaat, bukan loyalitas atau kebutuhan yang berkelanjutan.
Lebih jauh lagi, kegagalan sistem dalam menyediakan ruang refleksi ini menciptakan fenomena cognitive dissonance atau penyesalan pasca-pembelian yang tinggi.
Konsumen sering kali merasa terjebak setelah mesin pemasaran berhasil memaksa mereka bertransaksi. Bagi seorang entrepreneur, ini adalah alarm bahaya.
Bisnis yang dibangun di atas manipulasi kecemasan sosial mungkin akan menang secara statistik dalam jangka pendek, namun akan kehilangan kepercayaan (trust) dalam jangka panjang.
Membangun integritas dalam marketplace berarti berani memberikan informasi yang jujur, bukan sekadar menciptakan urgensi yang palsu.
Mengembalikan kemudi dalam perilaku konsumsi bukan berarti kita anti terhadap kemajuan. Justru itu adalah langkah berani bagi seorang entrepreneur masa depan untuk membangun ekosistem yang tidak sekadar mengejar konversi, tapi juga menghargai kesadaran konsumen.
Kita perlu sadar bahwa sistem boleh semakin canggih, namun kendali atas keputusan tetap harus berada di tangan manusia, bukan pada algoritma.
Nilai sebuah produk kini bukan lagi soal kegunaannya, tapi soal seberapa efektif ia mampu meredam gangguan psikologis yang diciptakan oleh mesin pemasaran itu sendiri tanpa merusak kedaulatan berpikir penggunanya. (Red)