Oleh: Moh. As’ad Hasanudin A., mahasiswa Akidah Filsafat Islam, Fakultas Ushuluddin dan Humaniora (FUHUM) UIN Walisongo Semarang
SUARAMUDA.NET, SEMARANG — Kerugian besar ketika mahasiswa hanya untuk kuliah, duduk di kelas, lalu pulang. Kampus tidak hanya sebagai ruang akademik, namun ada banyak hal positif yang dapat menjadi penunjang kesuksesan selama menjalani studi.
Kampus juga sebagai arena pengelolaan diri, cara berpikir, karakter dan kapasitas sosial. Salah satunya dengan bergerak aktif di organisasi.
Sayangnya, belakangan ini minat mahasiswa untuk mendedikasikan diri mereka menjadi aktivis menunjukan angka yang memprihatinkan. Ada berbagai alasan berkaitan dengan hal itu (baca: politik mahasiswa).
Pertama, pilihan menjadi mahasiswa aktivis dianggap memiliki banyak konsekuensi, seperti lulus terlambat dan ekstra keras manajemen jadwal hidup. Sementara dewasa ini kampus mulai bergerak secara pragmatis utamanya sesuatu yang formal.
Tekanan biaya kuliah semakin mahal serta menuntut mahasiswa untuk fokus di perkuliahan dan lulus tepat waktu.
Kedua, kencangnya arus global dan modernisasi telah melahirkan hedonisme; banyak menjangkiti mahasiswa dan menjadikan mereka lebih individualis.
Dengan situasi demikian, banyak mahasiswa yang memilih “mengamankan” diri dengan fokus akademik. Media sosial dan budaya konsumeris akhirnya membentuk paradigma beripikir instan, dan individualis.
Nilai-nilai kepedulian dan kepekaan yang semestinya menjadi bagian dari kesadaran intelektual mereka, luntur. Imbasnya, mereka lebih sibuk dengan pencitraan diri.
Menjadi aktivis atau tidak selama menjalani studi memang menjadi pilihan masing-masing pribadi mahasiswa. Tetapi, pilihan untuk sekedar duduk manis di kelas lalu pulang begitu saja adalah tindakan kurang bijaksana.
Mahasiswa yang demikian telah teralienasi oleh dirinya sendiri. Tan malaka melalui pemikirannya “Manusia Insdonesia Merdeka”, menegaskan bahwa kemajuan bangsa tidak hanya bergantungpada kekuatan fisik dan teknologi, tapi pondasinya adalah kesadaran kritis masyarakatya termasuk mahasiswa.
Idealisme berangkat dari iman, bahwa hakikat kemerdekaan dimulai dari berpikir. Di alam bawah sadar mahasiswa yang hanya mengejar nilai akademik dan melupakan tanggung jawab sosial, adalah mereka yang terpenjara oleh rasa nyaman.
Aktivisme bukan sekedar kegiatan organisasi, melainkan proses pembentukan nalar yang merdeka, tidak tunduk pada tekanan formalitas, cacat intelektual, dan pola hidup yang pragmatis.
Argumen di atas mungkin terlalu berlebihan untuk saat ini, akan tetapi, kita tahu bahwa manusia secara kodratnya adalah makhluk sosial.
Dan di dalam kampus mahasiswa tidak hanya dididik melalui ideologisasi, melainkan untuk berkolaborasi, diskusi, dan bekerja secara kolektif kolegial.
Dalam dunia kampus mahasiswa juga diajak untuk mengukuhkan budaya komunalisme dan gotong royong yang pada hakikatnya merupakan ciri khas bangsa Indonesia.
Jika pembaca diam, atau enggan bergerak di ruang tersebut (aktivisme), maka dapat dipastikan dia adalah seorang yang egois dan individualis karena enggan mendedikasikan diri dan kemampuannya untuk bangsa ini.
Problematika tidak lulus tepat waktu, atau nilai kuliah anjlok itu menjadi konsekuensi yang nyata, akan tetapi hal tersebut dapat diantisipasi dengan mengatur jadwal yang jelas dan tepat.
Namun perlu di ingat kita (mahasiswa) berangkat kuliah tidak hanya untuk mendapatkan selembar kertas berstempel, melainkan untuk kematangan hidup.
Oleh karena itu yakinlah bahwa dengan aktif di organisasi internal maupun eksternal kampus, meski tidak lulus tepat waktu, kita akan lulus dengan lebih matang, karena kita lulus memang pada waktunya, bukan sekedar tepat waktu.
Tan Malaka pernah berpesan, masa depan bangsa tidak semata-mata dibangun hanya dengan kepintaran teknis, tetapi dengan keberania untuk berpikir merdea, mengambil peran dan bergerak.
Mahasiswa yang mendedikasikan dirinya menjadi aktivis hakikatnya sedang mengeksplor kehidupan yang berat, namun jauh lebih bermakna mereka tidak hanya lulus, tetapi dilahirkan kembali sebagai manusia. (Red)
kerennnn