
SUARAMUDA.NET, SEMARANG — Siapa sangka, dari Magelang ke Vienna, jejak langkah seorang mahasiswa bisa mengangkat budaya Jawa ke panggung dunia.
Dialah Mohammad Rifqi Farhansyah, mahasiswa Teknik Informatika ITB yang sukses menorehkan prestasi langka: jadi satu-satunya mahasiswa S1 asal Indonesia yang karyanya tembus Main Conference Association for Computational Linguistics (ACL) 2025 di Austria.
Buat yang belum tahu, ACL ini ibarat “Liga Champions”-nya dunia riset bahasa dan kecerdasan buatan. Hanya 20% naskah terbaik dari ribuan pengajuan yang bisa lolos.
Biasanya, nama-nama besar macam Google, Microsoft, Amazon, sampai kampus elite dunia—MIT, Stanford, Oxford—jadi pengisi daftar pesertanya. Nah, di tengah dominasi para peneliti senior, Rifqi hadir membawa warna baru.
Karyanya berjudul “Do Language Models Understand Honorific Systems in Javanese?” mengulik hal yang sangat dekat dengannya: bahasa Jawa dengan segala tingkatannya, atau yang dikenal sebagai Unggah-Ungguh Basa.
Sejak kecil, Rifqi akrab dengan tata bahasa halus ini. Dari situ, ia menciptakan korpus “UNGGAH-UNGGUH” untuk menguji apakah model bahasa raksasa seperti ChatGPT dan Gemini benar-benar paham nuansa bahasa Jawa.
Hasilnya? Masih jauh dari sempurna. Model canggih dunia ternyata sering gagal menjaga level kesantunan bahasa. Penemuan ini bukan cuma soal teknis, tapi juga cara melestarikan budaya melalui teknologi.
Tak berhenti di situ, Rifqi juga jadi penulis utama di riset kolaboratif se-Asia Tenggara berjudul “Crowdsource, Crawl, or Generate? Creating SEA-VL, a Multicultural Vision-Language Dataset for Southeast Asia.”
Lagi-lagi, kedua paper tersebut diterima di Main Conference ACL 2025 saat statusnya masih …mahasiswa S1!
Perjalanan Rifqi tentu bukan tanpa tantangan. Keterbatasan komputer untuk eksperimen riset jadi kendala besar. Untungnya, ia mendapat dukungan research grant dari Boston University.
Perjalanan ke Austria pun terbantu lewat Diversity and Inclusion Travel Grant dari Apple, plus support akomodasi dari Monash University.
“Riset itu dunia yang menyenangkan dan penuh peluang. Semoga bisa menginspirasi mahasiswa Indonesia lain untuk berani mencoba,” ujar Rifqi.
Ke depan, ia sudah menyiapkan mimpi besar: lanjut S3 di universitas top dunia, lalu kembali membina generasi muda Indonesia, khususnya yang punya keterbatasan ekonomi, agar bisa ikut berkiprah di dunia teknologi.
Dari Magelang untuk dunia, Rifqi membuktikan bahwa riset bukan hanya soal angka dan algoritma, tapi juga tentang identitas, budaya, dan keberanian untuk bermimpi. (Red)