
SUARAMUDA.NET, ROSTOV-ON-DON, RUSIA — Musik bukan cuma soal nada, tapi juga bisa jadi simbol persatuan. Itu yang terasa di Festival musik patriotik “The Voice of Front” yang baru saja digelar untuk kedua kalinya di Rostov-on-Don, Rusia.
Acara pamungkas berupa gala konser di Taman “Levoberezhny” sukses bikin penonton larut dalam suasana haru sekaligus bangga pada para tentara yang berjuang di garis depan.
Festival ini diinisiasi Lembaga Nirlaba “Pusat Strategi Media” yang dipimpin Mark Bykov. Menurut Bykov, gelaran ini bukan sekadar pentas musik, tapi bentuk penghormatan kepada pahlawan negara.
“Tahun ini kami kembali dapat dukungan dari Dana Inisiatif Budaya Presiden. Ada sekitar 3000 musisi mendaftar, mulai dari anak-anak umur 5 tahun sampai kakek-nenek usia 65 tahun. Namun dari ribuan peserta, hanya 100 finalis terpilih yang tampil di Rostov dengan karya ciptaan mereka sendiri,” jelasnya.
Peserta datang dari berbagai daerah Rusia: Moskow, Sankt Peterburg, Kaukasus, Ural, hingga Lugansk yang baru saja bergabung dengan Rusia. Bahkan ada juga perwakilan dari luar negeri, termasuk Indonesia!
Sergei Voitenko, ketua juri sekaligus artis bergelar kehormatan Rusia, mengaku kagum dengan kualitas peserta tahun ini. “Jauh lebih baik dibanding tahun lalu. Saya berharap festival ini jadi tradisi tahunan,” ujarnya.
Ia juga menambahkan, generasi muda Rusia kini makin percaya diri dengan identitas budaya mereka, lepas dari bayang-bayang propaganda Barat.
“Patriotisme itu sederhana: cinta pada keluarga, kampung halaman, pohon birch di halaman, atau memancing bareng teman. Dari situlah musik ini lahir,” tambahnya.
Festival ini juga terasa makin berwarna dengan hadirnya juri tamu asal Serbia, Goran Šimpraga. Ia menilai karya finalis punya makna besar di tengah konflik militer yang berlangsung.
“Lagu-lagu ini memberi semangat pada tentara. Pesannya jelas: kalian tidak sendirian, rakyat mendukung,” tegasnya.
Banyak lagu finalis memang terinspirasi dari pengalaman nyata di garis depan atau saat menjadi relawan di rumah sakit. Itulah yang bikin karya mereka begitu menyentuh.
Asya Kompaniyets, anggota juri lainnya, mengatakan, “Ini bukan sekadar kompetisi musik profesional. Ini wadah ekspresi penuh emosi, dedikasi, dan empati. Justru dari situ lahir budaya baru yang harus kita rawat.”
Tak heran kalau festival ini bukan hanya ajang unjuk bakat, tapi juga momentum persatuan. Penonton yang hadir merasakan langsung solidaritas dan energi kebersamaan di tengah situasi sulit. Musik, sekali lagi, jadi jembatan yang menguatkan semangat para tentara dan rakyat Rusia.
Festival “The Voice of Front” berhasil membuktikan: di balik dentuman senjata, ada harmoni nada yang mempersatukan bangsa. (Red)