
SUARAMUDA, SUKOHARJO — Diinisiasi Lakpesdam NU Kabupaten Sukoharjo, Pemerintah Desa Puron, Kecamatan Bulu, Kabupaten Sukoharjo, melangkah maju dengan menggelar Workshop bertajuk “Pemberdayaan Disabilitas: Mewujudkan Aksesibilitas dan Partisipasi dalam Pembangunan Desa”, Senin (30/9/2024).
Dihadiri 55 peserta dari berbagai unsur masyarakat, kegiatan yang berlangsung sejak pukul 08.00 hingga 16.00 WIB ini bertempat di aula pertemuan Balai Desa Puron, acara tersebut dihadiri oleh 55 peserta dari berbagai unsur masyarakat.
Dalam workshop ini, hadir perwakilan dari Pemerintah Desa, Badan Permusyawaratan Desa (BPD), Pemuda, Perempuan, Penyandang Disabilitas, tokoh agama, tokoh masyarakat, serta kelompok rentan lainnya.
Ketua Lakpesdam NU Kabupaten Sukoharjo, Muhammad Zainuddin, dalam sambutannya, menekankan bahwa pemberdayaan disabilitas merupakan salah satu agenda penting dalam pembangunan berkelanjutan di tingkat desa.
“Pemberdayaan ini bukan sekadar formalitas, tetapi komitmen nyata untuk mewujudkan desa yang inklusif, di mana penyandang disabilitas mendapatkan ruang untuk berpartisipasi aktif,” ujarnya.
Kepala Desa Puron, Wahyu Riyanto, turut menegaskan, Desa Puron akan terus berupaya menyediakan infrastruktur dan kebijakan yang mendukung penyandang disabilitas.
“Kami berkomitmen untuk mewujudkan Desa Puron yang ramah disabilitas, di mana setiap warga desa, tanpa terkecuali, memiliki hak yang sama untuk berpartisipasi dalam proses pembangunan,” katanya.
Hadir Dua Narasumber
Ada dua narasumber yang hadir dalam workshop ini, yakni praktisi hukum sekaligus advokat Agus Sumarsono dan Ketua Lembaga Pengembangan Teknologi Pedesaan, Rahadi.
Sebagai pemateri pertama, Agus Sumarsono dalam pemaparannya menyampaikan materi kepemimpinan dan partisipasi penyandang disabilitas dalam pembangunan desa. Ia menekankan pentingnya memberikan ruang bagi penyandang disabilitas untuk terlibat aktif dalam proses pengambilan keputusan dan pelaksanaan pembangunan desa.
Selain itu, ia juga membahas tentang kampanye kesadaran masyarakat tentang aksesibilitas dan inklusi, serta strategi pembentukan kelompok usaha mandiri penyandang disabilitas.
Sementara itu, Rahadi lebih bicara pada keterampilan usaha kreatif bagi penyandang disabilitas serta pentingnya pembangunan infrastruktur desa yang ramah pada kaum disabilitas.
Ia menggarisbawahi bahwa pelatihan keterampilan usaha kreatif akan memberikan peluang ekonomi bagi penyandang disabilitas untuk mandiri secara finansial dan berkontribusi pada ekonomi desa. Dikatakan pula, infrastruktur yang ramah disabilitas juga menjadi faktor penting untuk memastikan partisipasi penuh mereka.
Sesi workshop diakhiri dengan diskusi interaktif, di mana para peserta antusias mengajukan pertanyaan dan berbagi pengalaman. Pertanyaan-pertanyaan yang muncul berkisar pada tantangan yang dihadapi penyandang disabilitas di desa, serta cara-cara untuk meningkatkan partisipasi mereka dalam pembangunan.
Workshop ini menjadi langkah penting dalam memperkuat komitmen pemerintah dan masyarakat Desa Puron untuk menciptakan lingkungan yang inklusif, berkeadilan, dan berkelanjutan bagi semua warganya, tanpa terkecuali.
“Masyarakat yang inklusif adalah masyarakat yang kuat, di mana tidak ada satu pun yang tertinggal,” tegas Zainuddin saat menutup acara. (Red)