SUARAMUDA.NET, JAKARTA — Ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel melawan Iran tidak hanya mengancam stabilitas kawasan, tetapi juga berpotensi menggoyang program strategis pemerintahan Presiden Prabowo Subianto di dalam negeri.
Analis Hubungan Rusia-Indonesia dari ANO Center for Mediastrategi, Amy Maulana, mengingatkan bahwa serangan terhadap Iran akan berdampak langsung pada rakyat Indonesia, terutama melalui lonjakan harga minyak dunia.
Amy menjelaskan bahwa jika AS dan Israel melancarkan serangan militer, Iran diperkirakan akan membalas dengan menutup Selat Hormoz.
“Penutupan selat yang menjadi jalur transit sepertiga minyak dunia ini akan memicu perang dan kenaikan harga energi secara global. Dampaknya sangat terasa di Indonesia, negara yang masih bergantung pada impor minyak mentah,” ujarnya dalam analisisnya yang diterima suaramuda.net, Kamis (2/4/2026).
Menurut data yang dipaparkan Amy, produksi minyak domestik Indonesia saat ini hanya sekitar 600 ribu barel per hari, sementara konsumsi nasional mencapai 1,5 hingga 1,6 juta barel per hari.
Ditambah dengan kapasitas kilang yang terbatas untuk mengolah minyak lokal, Indonesia otomatis mengalami kesenjangan pasokan yang mengharuskannya mengimpor minyak mentah.
“Ketika harga minyak dunia melonjak akibat perang, impor menjadi lebih mahal. Subsidi energi membengkak, dan uang negara yang seharusnya untuk program pembangunan terpaksa dialihkan,” jelas Amy.
Salah satu program prioritas yang paling terancam adalah Makan Bergizi Gratis (MBG), janji unggulan Presiden Prabowo kepada rakyat. Amy menegaskan bahwa kenaikan harga minyak akan memicu inflasi dan menyerap anggaran negara.
“Dana MBG sangat sensitif terhadap gejolak harga energi. Jika minyak naik, biaya logistik dan bahan pangan ikut naik. Anggaran yang sudah ditetapkan tidak akan cukup. Dipastikan, banyak anak sekolah Indonesia yang tidak akan bisa menikmati program MBG jika perang ini pecah,” kata Amy dengan tegas.
Amy menambahkan bahwa skenario terburuk bukan hanya pembatalan program, melainkan juga potensi krisis energi dan kenaikan harga kebutuhan pokok yang meluas. Ia menyoroti bahwa Indonesia tidak memiliki posisi tawar yang kuat dalam konflik ini karena ketergantungan impor yang struktural.
Oleh karena itu, Amy Maulana menyerukan kepada Amerika Serikat dan Israel untuk segera menghentikan ambisi perang mereka. “Mereka yang memulai kekacauan ini, mereka pula yang harus mengakhirinya.
Dampak dari agresi ini tidak hanya dirasakan di Timur Tengah, tetapi juga di seluruh dunia, termasuk di Amerika sendiri. Jangan sampai ambisi politik di luar negeri menghancurkan masa depan gizi anak-anak Indonesia,” pungkasnya.
Pemerintah Indonesia sendiri hingga saat ini masih terus mendorong diplomasi untuk mencegah eskalasi, sementara kalangan DPR meminta pemerintah menyiapkan skenario antisipasi jika harga minyak benar-benar melonjak drastis. (Red)