SUARAMUDA.NET, SEMARANG — Langkah Amerika Serikat memindahkan sebagian sistem pertahanan udara canggihnya dari Korea Selatan ke Timur Tengah bikin situasi keamanan di kawasan Semenanjung Korea jadi sorotan. Seoul mulai dilanda rasa waswas, meski pemerintah berusaha menenangkan publik.
Laporan The Washington Post menyebut Washington mulai merelokasi beberapa aset sistem pertahanan Terminal High Altitude Area Defense (THAAD) dari Korea Selatan.
Pemindahan ini dilakukan karena meningkatnya tensi konflik di Timur Tengah yang dianggap membutuhkan tambahan perlindungan militer.
Padahal selama ini AS menempatkan sekitar 28.500 personel militer di Korea Selatan, lengkap dengan berbagai sistem pertahanan udara dan rudal untuk menangkal ancaman dari Korea Utara yang dikenal memiliki senjata nuklir.
Langkah relokasi itu langsung memicu kekhawatiran munculnya celah keamanan di kawasan. Namun Kementerian Pertahanan Korea Selatan buru-buru memberi klarifikasi agar situasi tidak makin panas.
Dalam pernyataan resminya kepada AFP, Rabu (11/3/2026), Kemenhan Korsel menegaskan bahwa kekuatan militer mereka tetap cukup untuk menghadapi ancaman dari Pyongyang.
“Terlepas dari apakah aset USFK tertentu dikerahkan ke luar negeri, tidak ada masalah dengan postur pencegahan kami terhadap Korea Utara,” tulis pernyataan tersebut.
Meski begitu, pemerintah Seoul tidak memberikan konfirmasi detail terkait laporan pemindahan sistem rudal THAAD yang dirancang untuk mencegat rudal balistik jarak pendek hingga menengah.
Presiden Korea Selatan Lee Jae-myung bahkan secara terbuka mengaku tidak senang dengan langkah Washington. Ia menegaskan pemerintahnya sebenarnya menolak penarikan sebagian sistem pertahanan udara milik Pasukan Amerika Serikat di Korea (USFK).
Namun di sisi lain, Lee juga mengakui kenyataan pahit hubungan aliansi dengan Washington. “Kenyataannya, kita tidak bisa sepenuhnya memaksakan pendapat kita kepada Amerika Serikat,” ujar Lee.
Kekhawatiran publik semakin memuncak setelah kantor berita Yonhap merilis foto aktivitas pembongkaran baterai THAAD di Seongju, sekitar 220 kilometer di selatan Seoul.
Pihak kepresidenan Korea Selatan pun meminta media tidak berspekulasi berlebihan mengenai pemindahan aset militer tersebut. Mereka menilai spekulasi bisa memicu ketegangan dan mengganggu stabilitas keamanan serta hubungan diplomatik kedua negara.
Di tengah meningkatnya konflik global, keputusan Washington ini menunjukkan satu hal: prioritas militer AS bisa berubah cepat—dan sekutunya harus siap menghadapi konsekuensinya. (Red)