Dari Sorak Buruh ke Tangis Ojol: Demo 28 Agustus Jakarta Berakhir Tragis

Demo di depan Gedung DPR/MPR RI. (Liputan6.com/Ady Anugrahadi)

SUARAMUDA.NET, JAKARTA — Awalnya suasana depan Kompleks DPR/MPR RI pada Kamis (28/8/2025) terlihat penuh energi tapi damai. Ribuan buruh dari berbagai serikat datang dengan bendera dan spanduk warna-warni, menyuarakan tuntutan mereka.

Musik dangdut jalanan sempat terdengar, ikut memecah riuh sorak sorai massa yang menuntut “hapus outsourcing” dan “tolak upah murah.”

Di tengah panasnya Jakarta siang itu, aksi tampak terorganisir. Massa bergantian berorasi di mobil komando. Mereka menuntut kenaikan upah minimum provinsi (UMP) 2026 sebesar 8,5–10,5 persen, serta perbaikan kebijakan tenaga kerja yang dianggap semakin menekan buruh.

Gerakan yang mereka sebut HOSTUM (Hapus Outsourcing, Tolak Upah Murah) tidak hanya terjadi di ibu kota, tapi juga serentak di 38 provinsi.

Namun, sore menjelang malam, suasana berubah. Ketegangan meningkat setelah sebagian massa mulai memblokir jalan tol dalam kota. Suara petasan dan botol kaca dilemparkan ke arah aparat.

Polisi yang sejak pagi berjaga akhirnya menembakkan gas air mata untuk membubarkan massa. Aksi damai seketika pecah jadi kericuhan.

Di tengah kekacauan itu, tragedi terjadi. Sebuah kendaraan taktis (rantis) Brimob melintas cepat di sekitar kawasan Pejompongan. Seorang driver ojek online, dengan jaket hijau khasnya, tertabrak dan terlindas hingga tewas di tempat.

Video amatir dari warga langsung viral di media sosial, memicu gelombang marah dan duka. Banyak netizen menilai aparat bertindak berlebihan, sementara pihak kepolisian berjanji akan melakukan investigasi dan menindak tegas anggotanya yang terbukti lalai.

Kericuhan juga merembet ke layanan transportasi umum. KRL Commuter Line jalur Cikarang–Kampung Bandan terpaksa tidak berhenti di Stasiun Karet karena lokasi terlalu dekat dengan titik aksi.

Transjakarta pun mengalihkan sejumlah rute yang melewati Monas, Senayan, hingga Tanah Abang. Ribuan penumpang terpaksa mencari jalan alternatif untuk pulang.

Tak hanya jadi sorotan dalam negeri, media asing pun ikut menyorot. Bloomberg menyebut aksi ini sebagai tanda ketidakpuasan publik yang semakin meningkat terhadap kebijakan pemerintah Presiden Prabowo Subianto.

Demo buruh 28 Agustus meninggalkan catatan kelam: dari awalnya semarak penuh semangat perjuangan, berubah jadi malam penuh gas air mata, lalu diakhiri dengan kabar duka seorang ojol yang kehilangan nyawanya. Sebuah pengingat bahwa di balik teriakan tuntutan, ada nyawa yang ikut jadi korban. (Red)

Redaksi Suara Muda, Saatnya Semangat Kita, Spirit Indonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like