
SUARAMUDA, KOTA SEMARANG — Di suatu pagi yang tenang, 16 Juli 2024, saya—Silfana Wiwit Soliha—melangkah menuju Cirebon dengan hati yang penuh harap.
Setiap detik dalam perjalanan ini terasa istimewa, sebuah langkah kecil dalam mimpi besar menjadi bagian dari ‘Gerakan Turun ke Sekolah’ oleh ‘Gerakan Sekolah Menyenangkan’.
Ketika kereta Kaligung meninggalkan Pemalang, saya tahu, ini bukan sekadar perjalanan fisik, tetapi juga perjalanan jiwa menuju cita-cita untuk memberi makna.
Setibanya di SD Negeri Merapi, senyum tulus para guru menyambut hangat. Kepala sekolah dan para pendidik di sana memberikan saya ruang dan kepercayaan, menghidupkan semangat yang memenuhi hati.
Di depan anak-anak kelas 5, saya berdiri tepat pukul 09.00, menatap mata-mata kecil yang bersinar penuh harapan, seolah siap menerima setiap cerita, ilmu, dan pesan.
Materi tentang budaya, agama, dan kesehatan yang saya sampaikan terasa hidup dengan sentuhan permainan dan canda. Tawa mereka menjadi nyanyian terindah yang mengiringi, menjadikan setiap kata sebuah doa kecil yang melayang ke langit.
Seminggu berlalu, saya melangkah ke SD Negeri Rajawali. Kali ini, hanya ada lima anak di kelas 2, namun semangat mereka memenuhi ruangan kecil itu dengan sukacita.
Mereka sedikit, namun dalam tatapan mereka yang menyala, saya melihat dunia yang terbuka luas—mimpi-mimpi yang berani mereka genggam dengan penuh keinginan.
Di ruang sederhana ini, saya merasakan bahwa pendidikan bukan soal jumlah atau kelengkapan fasilitas, tapi tentang keinginan mereka untuk belajar, untuk berjuang.
Lebih dari sekadar materi atau kuis, pertemuan-pertemuan ini meninggalkan sesuatu yang lebih berharga dalam hati—sebuah pesan tanpa kata yang disampaikan melalui tatapan semangat dan tawa murni mereka.
Momen ini mengingatkan saya pada tujuan hidup yang ingin saya tempuh: bahwa pendidikan adalah jendela mimpi bagi mereka yang terhalang oleh keadaan, dan kesempatan untuk bersama mereka membuka jendela itu adalah anugerah tersendiri.
Saya juga mengadakan kuis kecil, memberikan hadiah buku dan pulpen. Melihat senyum mereka saat menerima hadiah sederhana ini, saya tersadar bahwa kebahagiaan tak diukur dari besar kecilnya pemberian, tapi dari ketulusan yang terselip di dalamnya.
Bagi saya, ‘Gerakan Turun ke Sekolah’ bukan sekadar program, tapi sebuah ruang di mana saya dapat menyentuh jiwa-jiwa muda, menyampaikan bukan hanya ilmu tetapi juga secercah harapan yang membekas.
“Menjadi relawan adalah bentuk seni,” renungku dalam hati, “seni mencintai, seni memberi tanpa harap kembali. Setiap detiknya adalah puisi yang hidup, setiap tawa adalah cahaya bagi masa depan mereka.”
Dan dalam setiap langkah ini, saya belajar bahwa memberi tak pernah mengurangi. Justru, ia memperkaya. Mereka yang saya temui di dua sekolah ini memberi saya sesuatu yang lebih besar dari yang saya bawa—semangat dan dorongan untuk terus bermimpi.
Di atas kereta dalam perjalanan pulang, hening malam mengisi hati saya dengan kenangan indah dan air mata yang tak tertahan. Bukan karena lelah, tapi karena rasa terima kasih.
Sekarang, di dinding kamar saya tergantung pesan dan kesan dari anak-anak yang menemani mimpi saya, mengingatkan bahwa perjalanan kecil ini bukan akhir, tetapi awal dari segala perubahan besar yang ingin saya perjuangkan. (Red)
Penulis: Silfana Wiwit Soliha