
SUARAMUDA- Kebiasaan siswa-siswi jajan makanan maupun minuman dengan kemasan plastik menjadi salah satu penyebab bertambahnya sampah plastik di lingkungan madrasah. Ditambah pengetahuan para siswa-siswi terhadap pengelolaan sampah plastik juga masih minim, sehingga tanggung jawab terhadap penggunaan plastik juga rendah.
Oleh karena itu salah satu langkah yang dilakukan oleh pihak Madrasah yakni mengedukasi siswa-siswi dalam mengelola sampah plastik melalui ecobricks. Ecobricks adalah botol plastik yang diisi secara padat dengan sampah bukan biologis, yakni plastik dengan cara memberdayakan individu untuk bertanggung jawab atas sampah mereka.
Madrasah Ibtidaiyah Nahdlatul Ulama (MINU) 18 Desa Weleri, Kecamatan Weleri Kabupaten Kendal mengajak kerjasama dengan Komunitas Kerajinan Daur Ulang Sampah (KerDUS) Kendal dan Marimas untuk melatih mereka menangani sampah plastik. Jum’at, 30/8/2024.
Kepala MINU 18 Weleri Yusuf Tri Waluyo mengatakan agar anak didik kami bijak dalam menggunakan plastik maka kami melakukan kegiatan penyadaran dampak sampah plastik bagi lingkungan dengan cara yang lebih asyik dan tepat sesuai usia mereka.
“Anak-anak sebagai calon penerus bangsa adalah sasaran yang tepat untuk diedukasi agar bijak menggunakan plastik, maka kami melakukan kegiatan penyadaran dampak sampah plastik bagi lingkungan dengan memperkenalkan metode ecobrick sebagai alternatif pengelolaan sampah plastik,” kata Yusuf.
Dengan metode ecobrick ini karena tekniknya sederhana dan sangat mudah serta dapat dilakukan oleh siapa saja. Harapannya dengan adanya pelatihan ini setidaknya mereka tahu bahwa sampah plastik itu sulit untuk didaur ulang oleh alam jadi penggunaan akan plastik dapat berkurang, lanjutnya.
“Syukur Alhamdulillah bila dirumah mereka nantinya mau mengelola sampah kemudian dijadikan sebuah karya daur ulang,” tandasnya.
Imanuddin, selaku koordinator relawan KerDUS menambahkan sampah plastik itu dibiarkan tidak terurai namun jika dibakar malah timbul masalah baru yakni polusi asap serta sisanya pembakaran juga masih ada.
“Dalam kehidupan kita sehari-hari, tentu tidak lepas dari adanya permasalahan sampah. Dan yang menjadi permasalahan adalah sampah tersebut tidak dapat terurai seperti plastik. Maka dari itu ecobrick menjadi salah satu solusi,” kata Imanuddin.
Aisyah Izzati Putri, salah seorang siswi MINU 18 Weleri mengatakan sangat senang diajari ecobrick karena mudah dan bisa jadi daur ulang bentuk macam-macam.
“Tadi pertama disuruh masukkan kresek, terus diratakan sama bambu kecil sampai rata. Kemudian sampah plastik dipotong kecil-kecil dan dimasukkan kedalam botol. Ada yang jadi bentuk bunga plastik, ada yang bisa jadi kursi, ada pot dan ada lagi yang bisa jadi kasur. Pokoknya keren,” kata Aisyah siswi kelas 2 MINU 18 Weleri.