
SUARAMUDA, SEMARANG — Jalan-jalan di sekitaran kampus Universitas Negeri Semarang (Unnes) Sekaran, Gunungpati, Kota Semarang, kita tentu mudah menemukan gerai minuman bernama “Jeruk Peras Segar”.
Ya, selain produk minuman alternatif di tengah gegap gempitanya “Es Teh Jumbo” yang murah meriah, gerai “Jeruk Peras Segar” hadir dengan konsep minuman jeruk peras segar tanpa tambahan gula atau pengawet.
Entah siapa yang awalnya mempunyai ide ini. Di sekitar kampus Unnes Sekaran, mulai Jalan Banaran, hingga Jalan Taman Siswa, kini, tak sulit menemukan gerai minuman jeruk peras.
Apa Karena Medsos?
Menjamurnya gerai “Jeruk Peras Segar” ini bisa jadi karena keuletan sang pemilik gerai yang kali pertama berjualan. Atau, bisa jadi karena strategi pemasaran yang jitu di media sosial, sehingga ramai pengunjung.
Di dunia sosial media, video proses perasan jeruk yang sederhana namun segar itu kemudian perlahan viral,—-apalagi dalam video ditampilkan para pembelinya yang sampai mengular dalam setiap siang hingga sore.
Tentu, ‘mode’ kesuksesan itu perlahan tapi pasti akan menyulut reaksi berantai. Dalam waktu yang cukup singkat, di sepanjang jalan yang sama, kemudian muncul gerai-gerai serupa.
Ironisnya, di daerah atau tempat lain, seringkali dijumpai bahwa tiap-tiap gerai mempunyai konsep branding yang sama. Yang berbeda hanyalah nama: ada yang menamakan tokonya “Jerukin Aja”, “Peras Bro”, hingga “Citrus Queen”.
FOMO dalam Bisnis
Fenomena ini dikenal sebagai FOMO (Fear of Missing Out)—ketakutan ketinggalan tren yang membuat banyak orang terburu-buru ikut-ikutan tanpa perencanaan matang.
Dalam dunia bisnis, FOMO sering kali menjadi pisau bermata dua: bisa membawa keuntungan cepat, tapi juga risiko besar jika pasar tak mampu menampung semua pemain.
“Saya sih senang kalau makin banyak yang jualan minuman sehat,” ujar pebisnis minuman, dengan nada santai.
“Tapi lucu juga, ya, waktu awal saya buka, orang-orang mikir ide ini aneh. Sekarang malah rebutan jualan jeruk.”
Beberapa pebisnis baru memang berhasil menarik perhatian, apalagi yang punya modal besar dan bisa menawarkan promo lebih gencar.
Namun tak sedikit juga yang tumbang dalam waktu singkat karena salah perhitungan. Harga jeruk yang fluktuatif, daya tahan buah yang pendek, dan kompetisi ketat membuat margin keuntungan menipis.
Salah satu pemilik gerai lainnya, sebut saja Ali, mengaku membuka gerai jeruk karena melihat ramainya “Peras Segar” di TikTok.
“Saya pikir gampang, tinggal beli jeruk, beli alat peras, beres. Tapi ternyata banyak detail yang nggak kelihatan di balik kesuksesan para pemilik gerai kayak gini,” katanya.
Gerai milik Ali, tutup hanya tiga minggu setelah dibuka karena sepi pembeli dan kerugian stok buah yang membusuk.
FOMO Bisa Berujung Kegagalan
Fenomena ini mengingatkan bahwa dalam bisnis, ikut-ikutan tanpa riset mendalam dan diferensiasi produk bisa berujung pada kegagalan.
Sukses bukan hanya soal tren, tapi soal konsistensi, inovasi, dan kepekaan kita dalam membaca kebutuhan pasar.
Di tengah gempuran gerai “Jeruk Peras Segar”, tetap dibutuhkan eksperimen dengan varian baru seperti jeruk nipis-honey, dan bahkan menyediakan botol daur ulang sebagai nilai tambah ramah lingkungan.
Dari cerita fakta yang dibalut fiksi ini, pelajaran penting pun bisa dipetik bahwa FOMO boleh jadi memicu langkah pertama, tapi tanpa pondasi kuat, langkah itu bisa berujung pada jalan buntu.
Sebaliknya, mereka yang membangun bisnis dari ide, kesabaran, dan visi jangka panjang, biasanya jauh lebih siap dalam menghadapi gelombang tren sesaat. (Red)