
SUARAMUDA – Komunitas Safari Religi Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri (UIN) Prof. KH. Saifuddin Zuhri Purwokerto belum lama ini mengadakan kunjungan ke Situs Lemah Wangi, Desa Kalipagu, Kecamatan Baturaden, Kabupaten Banyumas, Kamis (1/8/2024) lalu.
Dari tujuannya, kunjungan itu dimaksudkan untuk membangun komunikasi dengan masyarakat, mempererat tali persaudaraan, serta meningkatkan silaturahmi antara mahasiswa.
Turut menghadiri acara itu, para tokoh lintas agama di sekitar wilayah Banyumas. Setidaknya kehadiran mereka menandakan keberagaman dan semangat persatuan. Kegiatan itu juga menjadi wadah untuk memperkuat ikatan sosial dan religius di masyarakat serta menampung aspirasi masyarakat kepada mahasiswa.
Ketua Lembaga Adat Lemah Wangi, Resi Nursanjaya, menjelaskan bahwa Lemah Wangi merupakan tempat bersejarah yang berakar dari era Brawijaya III dari Majapahit.
“Lemah Wangi adalah padepokan agung galupurba yang mengajarkan kaluhuran dan olah rasa. Tempat ini mengandung filosofi mendalam dan ajaran kaluhuran budi pekerti, ”katanya.
Resi menambahkan, kegiatan yang digelar di Situs Lemah Wangi merupakan rutinitas tahunan yang berlangsung setiap bulan Syura. Pada tahun ini, kegiatan diisi dengan kegiatan utama seperti asung sesaji dan meditasi bersama dari berbagai agama dan kepercayaan.
Ia menjelaskan, kegiatan tersebut juga mencakup kidungan, yakni penyampaian pesan leluhur melalui lagu, dan diakhiri dengan ‘umbul ndonga’. Adapun ‘umbul ndonga’ di tahun ini digelar secara Islami.
“Harapan kami adalah agar nilai-nilai luhur dari para leluhur tidak hanya menjadi teori tetapi diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, terutama oleh para mahasiswa. Jadi, mahasiswa diharapkan dapat menerapkan ajaran luhur dalam menghadapi perubahan zaman dan menjadi pemimpin yang bijaksana,” ujar Resi Nursanjaya.
Dalam event Syura itu, selain anggota adat Lemah Wangi, masyarakat Dusun Kalipagu, tokoh masyarakat, perangkat desa (BPD) dan paguyuban kelompok seni budaya juga hadir mewarnai acara itu.
Kehadiran mereka setidaknya memberi bukti adanya antusiasme masyarakat yang tinggi terhadap ajaran keluhuran nusantara khususnya di Tanah Jawa.
Kegiatan itu juga membuktikan bahwa ajaran luhur bersifat nyata dan dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Serta, menguatkan persatuan di tengah keberagaman. (Red)
Pewarta: Yasin (Purwokerto)
Foto: Dok. Istimewa