
SUARAMUDA.NET, SEMARANG — Insiden nahas menimpa seorang pengemudi ojek online (ojol) saat aksi demo buruh di Jakarta, Kamis (28/8/2025) malam.
Ia terlindas kendaraan taktis (rantis) milik Brimob Polri. Peristiwa ini menyoroti betapa besar dan beratnya rantis yang sejatinya dirancang untuk menghadapi situasi konflik bersenjata, bukan lalu lintas kota yang padat.
Dikutip dari detikoto, salah satu armada yang kerap digunakan adalah Rantis Rimueng, berbobot hampir 8 ton dengan bodi full lapis baja.
Kendaraan sepanjang 5,33 meter, lebar 2 meter, dan tinggi sekitar 2,4 meter ini mampu menahan serangan peluru berkat kaca NIJ Level 3 setebal hampir 4 cm. Didukung mesin 3.200 cc, Rimueng dapat berlari hingga 100 km/jam. Kapasitas angkutnya 4 personel di dalam kabin serta 8 personel tambahan di footstep luar (DetikOto).
Varian lain yang banyak dipakai adalah DAPC-2 Promoter, buatan Korea Selatan. Rantis ini lebih besar, sanggup membawa hingga 12 personel.
Dimensinya mencapai 6 meter panjang dengan berat sekitar 12 ton. DAPC-2 dilengkapi proteksi balistik standar NIJ IV, kubah senapan mesin kaliber 7,62 mm, dan peluncur gas air mata otomatis.
Keunggulan lain adalah ban run-flat serta sistem CTIS yang memungkinkan pengaturan tekanan ban dari dalam kabin (Airspace-Review).
Sementara itu, Barracuda yang menjadi ikon Brimob sejak lama punya bodi baja 8 mm dengan kaca anti peluru 4 mm. Beratnya mencapai 9 ton, dengan dimensi panjang 6,1 meter, lebar 2,5 meter, dan tinggi hampir 3 meter.
Bermesin 3.730 cc bertenaga 218 HP, Barracuda mampu melibas berbagai medan sekaligus mengangkut 12 pasukan penuh (SerbaID).
Kendaraan-kendaraan lapis baja ini memang diciptakan untuk menghadapi situasi genting. Namun, insiden ojol yang terlindas jadi alarm keras: rantis dengan bobot belasan ton dan desain tempur harus dioperasikan ekstra hati-hati saat berada di ruang sipil agar tidak kembali menelan korban. (Red)