Ratapan dari Kampung Kecil untuk Jakarta yang Terluka

POV: gelombang aksi demonstrasi terus bergulir. (Foto: Jawa Pos)

SUARAMUDA.NET, SEMARANG — Di sini, di kampung kecilku yang terhimpit bukit, suara paling keras di malam hari adalah nyanyian jangkrik atau gemericik air sungai di belakang rumah. Dunia berjalan sepelan awan, setenang embun yang turun di pucuk daun padi.

Tapi malam ini, semua kedamaian itu dirobek oleh raungan dari ponselku. Raungan sirene, pekik kesakitan, dan sumpah serapah yang lahir dari hati yang hancur. Ponsel di tanganku ini bukan lagi jendela dunia, ia telah menjadi luka yang bernanah di telapak tangan.

Jakarta, aku melihatmu malam ini. Dan demi Tuhan, pemandangan itu meremukkan tulang rusukku.

Aku melihat aspal jalananmu yang basah. Bukan oleh hujan, tapi oleh darah dan air mata. Aku seolah bisa menciumnya dari sini, bau hangus ban yang dibakar amarah, bau anyir darah yang merembes di antara paving block, dan bau pedih gas air mata yang memenuhi paru-paru kota yang sudah sesak.

POV: gelombang aksi demonstrasi terus bergulir. (Foto: Jawa Pos) 

Di tengah kabut itu, aku tak lagi melihat massa. Aku melihat jiwa-jiwa yang remuk. Aku lihat wajah seorang bapak, keriput di keningnya menyimpan lelah puluhan tahun di sawah, kini berteriak hingga urat lehernya putus, menagih janji yang tak pernah ditepati.

Aku lihat jaket ojol hijau yang robek, pemiliknya tersungkur, mungkin sedang memikirkan cicilan motor dan susu anaknya di rumah. Aku lihat perempuan-perempuan perkasa, menutup hidung anaknya dengan selendang basah, matanya menyala menantang perisai-perisai dingin di hadapan mereka.

Mereka tidak meminta istana emas, Jakarta. Mereka hanya ingin dapur tetap mengepul. Mereka hanya ingin anak-anak mereka bisa sekolah tanpa takut besok tak bisa makan. Mereka hanya ingin didengar. Hanya itu. Tapi suara mereka dibalas dengan dentuman, harapan mereka dijawab dengan pentungan.

Lalu aku memandang barisan di seberang. Anak-anak muda dengan seragam dan tameng. Aku coba membenci mereka, tapi aku tak bisa. Aku melihat getar samar di tangan seorang aparat yang memegang perisai.

Mungkin ia seusiaku. Mungkin ia juga anak desa, merantau ke ibukota dengan mimpi membanggakan keluarga, bukan untuk berhadapan dengan rakyatnya sendiri yang sama-sama susah. Mereka adalah korban yang dipaksa menjadi algojo.

Malam ini, Pancasila tidak sedang diuji, ia sedang disalib.

Di mana Ketuhanan, saat doa-doa orang kecil hanya membentur dinding beton kekuasaan, sementara nama Tuhan mungkin disebut dalam rapat-rapat para perampok negara?

Di mana Kemanusiaan, saat harga nyawa seorang rakyat lebih murah dari harga dasi mahal yang melingkar di leher para penguasa di gedung dingin itu? Kata ‘adab’ terdengar seperti lelucon yang paling kejam.

Di mana Persatuan, saat ibu pertiwi dipaksa menonton anak-anaknya saling hantam hingga berdarah-darah, hanya karena para dalang di balik layar tak pernah kenyang? Garis barikade itu adalah nisan bagi persatuan kita.

Kerakyatan dan Keadilan? Ah, Jakarta. Jangan buat aku tertawa dalam tangisku. Dua kata itu telah menjadi abu, terbang bersama asap gas air mata, hilang ditelan malammu yang paling kelam.

Dari kampung kecilku ini, aku merasa begitu jauh dan tak berdaya. Aku ingin berteriak, tapi suaraku hanya akan dipantulkan oleh bukit-bukit bisu dan ditelan oleh lebatnya pepohonan. Setiap dentuman yang kudengar di video itu, terasa seperti pukulan di ulu hatiku.

Malam ini, Jakarta, aku tidak mengirimimu doa. Doa terasa terlalu mewah untuk luka yang sedalam ini. Malam ini, dari bilik bambu kamarku yang sunyi, aku hanya bisa mengirimimu sesama luka, sesama nyeri, sesama kepedihan.

Dan dalam hening, saat semua orang di kampungku telah lelap bermimpi, aku masih terjaga. Di sini, di sebuah kampung kecil yang bahkan mungkin tak ada di peta, seorang anak bangsa sedang menangisi bangsanya yang sedang sekarat. (Red)

Oleh: Zello Bertholomeus, UNIKA St. Paulus Ruteng

Redaksi Suara Muda, Saatnya Semangat Kita, Spirit Indonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like