
Oleh: Muh Maulana Pramudiya Halim *)
Semarang, SUARAMUDA –
Pancasila, sebagai dasar negara Indonesia, memiliki peran yang sangat penting dalam menjawab berbagai tantangan yang dihadapi bangsa ini. Salah satu tantangan terbesar yang terus mengemuka adalah masalah intoleransi yang kerap terjadi di tengah masyarakat yang beragam.
Salah satu contoh nyata dari tantangan ini adalah insiden penolakan pembangunan rumah ibadah di Kabupaten Bekasi pada awal Februari 2025. Sekelompok warga menolak rencana pembangunan tempat ibadah untuk kelompok minoritas dengan alasan keresahan sosial, meskipun izin resmi sudah diberikan.
Insiden ini mencerminkan betapa implementasi nilai-nilai Pancasila, khususnya sila pertama “Ketuhanan Yang Maha Esa” dan sila ketiga “Persatuan Indonesia”, masih menghadapi tantangan yang nyata.
Pancasila mengajarkan bahwa setiap warga negara berhak untuk menjalankan ibadah sesuai dengan keyakinannya tanpa ada diskriminasi. Namun, kenyataannya, pandangan hidup yang menghargai keberagaman sebagai kekuatan yang mempersatukan masih belum sepenuhnya tertanam dalam masyarakat Indonesia.
Namun, tidak semua cerita tentang keberagaman di Indonesia berakhir dengan ketegangan.
Sebagai contoh, Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta XX yang digelar pada 15-23 Februari 2025 menunjukkan implementasi Pancasila dalam bentuk yang lebih positif.
Acara ini melibatkan berbagai komunitas lintas agama dan etnis, yang berkolaborasi dalam menampilkan kesenian tradisional Jawa dan Tionghoa. Menurut Ketua Panitia, Ahmad Sudrajat, acara ini menjadi bukti bahwa perbedaan bukanlah penghalang, melainkan kekayaan budaya yang patut dirayakan bersama.
Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta XX ini memperlihatkan bahwa nilai-nilai Pancasila dapat diimplementasikan dengan baik jika masyarakat benar-benar memahami esensi dari persatuan dalam keberagaman.
Keterlibatan berbagai elemen masyarakat dalam acara tersebut menggambarkan semangat gotong royong yang tercermin dalam sila kelima Pancasila, yang mendorong solidaritas antar sesama.
Acara ini bukan hanya dinikmati oleh masyarakat Tionghoa, namun juga disambut meriah oleh masyarakat luas, yang menunjukkan bahwa toleransi dapat menciptakan ruang bagi kebudayaan untuk berkembang bersama.
Namun, realitas di lapangan menunjukkan bahwa Indonesia masih berhadapan dengan sejumlah masalah intoleransi yang perlu segera ditangani.
Data dari Setara Institute mencatat setidaknya 94 kasus intoleransi di Indonesia sepanjang tahun 2024, angka yang menunjukkan bahwa penguatan nilai-nilai Pancasila sebagai dasar kehidupan bermasyarakat sangat diperlukan. Keberagaman yang ada harusnya menjadi kekuatan, bukan sumber perpecahan.
Untuk itu, Pancasila harus lebih dari sekadar simbol, tetapi menjadi pedoman yang nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Langkah konkret yang perlu dilakukan adalah dengan mengintegrasikan nilai-nilai Pancasila dalam pendidikan karakter, memperkuat dialog antarumat beragama, serta mendorong peran aktif tokoh masyarakat dalam mempromosikan toleransi.
Pancasila harus menjadi arah dan pegangan dalam menjalani kehidupan berbangsa dan bernegara, yang mencerminkan asas Bhineka Tunggal Ika – “Berbeda-beda tetapi tetap satu”. Dengan demikian, kita akan mampu menciptakan Indonesia yang lebih harmonis, berlandaskan pada toleransi, persatuan, dan keberagaman.
Penulis: Muh Maulana Pramudiya Halim, Mahasiswa Prodi Pendidikan Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Yogyakarta